Monday, 13 May 2013

Motor Learning




Menstabilkan kemampuan-kemampuan dan keterampilan motorik bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. Apalagi hal ini berkaitan dengan upaya peningkatan dan pengembangan kedalam suatu bentuk prestasi. Prestasi itu merupakan suatu yang sangat kompleks dan sensitif. Dikatakan komplek karena prestasi membutuhkan banyak pertimbangan dan kemampuan analisis yang tinggi, baik terhadap aspek-aspek yang mempengaruhi secara positif, apalagi terhadap hal-hal yang negatif. Untuk dapat membantu guru pendidikan jasmani dalam menyusun stategi pembelajaran dan mengendalikan proses pembelajaran secara optimal, maka diperlukan pengetahuan dan pengalaman atau pemahaman tentang ciri-ciri fase belajar motorik tingkat tiga.



Ciri-ciri Umum Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga
Tugas seorang guru pendidikan jasmani pada fase belajar tingkat ketiga ini tidak dapat dikatan ringan bila dibandingkan dengan fase belajar tingkat pertama atau kedua, hal ini perlu dipahami,karena pada semua tingfkat belajar, guru pendidikan jasmani mempunyai tugas dan tujuan yang berbeda-beda.
Fase belajar tingkat pertama, guru mempunyai tugas yang berat, yaitu untuk memperkenalkan kepada peserta didik sesuatu yang baru dan berusaha untuk mengendalikan proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat menguasai hal-hal yang baru dan batas-batas tertentu.
Fase tingkat kedua, guru memiliki tugas untuk menambah dan memperhalus keterampilan peserta didik. Fase ini merupakan fase perentara atau transisi yang menentukan prestasi tinggi seseorang.
Fase belajar motorik tingkat tiga, guru mempunyai tugas untuk menstabilkan kemampuan-kemampuan motorik yang dikuasai serta mengembangkan berbagai situasi yang bervariasi.
Gerakan-gerakan yang dituntut untuk mengerjakan suatu tugas dapat dilakukan tampa merasa ada keraguan. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian dari guru pendidikan jasmani adalah bahwa perbedaan kemampuan prestasi dalam pelaksanaan suatu gerakan yang nyata. Kemampuan prestasi tersebut kelihatan hampir sama, bila pelaksanaan gerakan dilakukan pada situasi dan kondisi yang tidak berubah-rubah.
Berdasarkan dari uraian di atas, dapat diperoleh suatu defenisi perbedaan kemampuan prestasi seseorang yang berada pada fase belajar pada tingkat tiga adalah kemampuan yang cukup tinggi dalam mentransper keterampilan motorik yang telah dikuasai ke dalam berbagai kondisi dan situasi. Kemampuan seseorang yang berada pada belajar tingkat tiga dalam mengambil atau merubah keputusan dalam waktu yang cukup cepat seta mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk mentransfer keterampilan yang telah dikuasainya merupakan hasil perbaikan yang didapatnya melalui peningkatan dalam berbagi aspek, antara lain:
- Perbaikan dalam mengantisipasi suatu situasi dan kondisi
- Perbaikan peran analisator kinestetik, sehingga ia mampu mengendalikan dan mengatur implus-implus tenaga pada otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan
- Perbaikan fungsi dan peran indera penerima impormasi
- Perbaikan-perbaikan dalam pengolahan impormasi yang diterima, perbaikan tersebut dapat dilihat dari semakin tepatnya keputusan-keputusan yang diambil. Hal ini dapat diamati pada ketepatan dan kemantapan penampilan gerak.

Kemampuan dalam mengambil dan merubah keputusanyang tepat dalam waktu yang singkat untuk menghadapi berbagai situasi oleh individu yang berbeda pada fase belajar tingkat ketiga merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman motorik yang berhasil dikumpulkan dan disimpan dalam ingatan motorik pada pusat simpanan motorik. Pengalaman motorik yang tersimpan semakin membantu sipelaku gerakan untuk mengambil keputusan dalam waktu yang cepat, upaya menghadapi situasi dan kondisi tertentu.

Ciri-ciri Khusus Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga
1.Terbentuknya Kemampuan Automatisasi
Kemampuan automatisasi ini merupakan tingkat kemampuan yang tinggi dalam penguasaan keterampilan motorik olahraga. Terbentuknya kemampuan automatisasi ini hanya mungkin, bila individu yang bersangkutan benar-benar telah menjiwai dan memiliki bermacam-macam bentuk gerakan dalam suatu cabang olahraga tertentu.
Kemampuan automatisasi ini erat hubungannya dengan program gerakan. Program gerakan yang telah tersimpan sebagai ingatan motorik, maka individu yang bersangkutan hanya tinggal merealisasikannya, sebagai contoh kongkrit misalnya gerakan kaki dan ayunan tangan pada saat berjalan.
Keadaan demikian menyebabkan gerakan-gerakan tersebut dimiliki secara mendasar oleh seseorang. Bila suatu saat dibutuhkan, maka program gerakan tersebut siap untuk direalisasikan ke dalam bentuk nyata yaitu gerakan.

2.Bayangan dan Konstuksi Bayangan Gerakan
Kecepatan dalam memilikidan mengkonstruksi bentuk-bentuk gerakan baru akibatnya dari perubahan situasi secara tiba-tiba atau kecepatan dalam pengaturan dan pengendalian kembali penyimpangan-penyimpangan gerakan. Perbaikan dalam aspek ini tdak hanya terlihat dari kecepatan mengkonstruksi program gerakan, tetapi juga berhubungan dengan ketepatan dari gerakan-gerakan yang dikonstruksi tersebut.
Dalam hal ini dapat kita amati didalam permainan bola basket. Seorang pemain telah membuat program gerakan untuk melakukan shooting, tetapi dengan tiba-tiba dihalangi oleh pemain lawan, pemain yang akan melakukan shooting tersebut dengan cepat dapat merobah program menjadi gerakan lain, seperti mengoper bola pada salah satu teman. Untuk pelaksanaan suatu gerakan adalah menyertai aspek-aspek yang berhubungan dengan program gerakan.
Misalnya dalam melaksanakan lompat jauh, seseorang akan melaksanakan gerakan
- Gerakan awalan
- Gerakan menolak
- Gerakan melayang
- Gerakan mendarat

3.Irama Gerakan
Berkaitan dengan irama gerakan, maka bentuk kerja yang diperlihatkan dalam pelaksanaan gerakan pada fase tingkat ketiga, ini terlihat semakin mulus dan lancar, sehinga gerakan-gerajan yang dilakukan cukup efesien dan efektif baik dalam hal pemakaian ruangan, maupun waktu dan tenaga. Ini merupakan hasil dari faktor peningkatan: perbaikan kemampuan antisipasi gerakan, peningkatan kualitas peran dan fungsi analisator kinestik, sehingga memungkinkan pemberian implus tenaga kepada otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan.

4.Kecepatan Gerakan
Individu yang berada pada fase belajar tingkat ketiga mampu melakukan gerakan-gerakan yang dituntut dengan cepat. Bahkan situasi dan kondisi memaksa, dia mampu melakukan perubahan-perubahan bentuk gerakan dengan cepat. Suatu keistimewaan khusus yang dimiliki oleh individu yang berada pada fase belajar tingkat ke tiga adalah kemampuannya untuk memanipulasi bentu-bentuk gerakan.
Bentuk gerakan yang pertama adalah program yang sebenarnya yakni bentuk-bentuk gerakan atau bentuk-bentuk aksimotorik yang akan dilakukan untuk pencegahan tugas gerakan atau untuk meraih hasil yang dicapai. Sedangkan bentuk gerakan yang kedua adalah bentuk gerakan yang akan menunjang atau memperlancar program gerakan yang sesungguhnya (bentuk tipuan).

C. Ciri-ciri Kemampuan Penerimaan dan Pengolahan Impormasi Fase Belajar Tingkat Tiga.
Ciri-ciri khusus kemampuan penerimaan dan pengolahan imformasi individu yang berada pada fase belajar tingkat tiga adalah semakin meningkatnya fungsi dan peran analisator informasi kinestik. Dengan pengertian lain terjadinya peningkatan kepekaan analisator kinestik dalam penerimaan informasi.
Dengan demikian semakin meningkatnya kualitas kepekaan analisator kinestik berarti individu yang berada pada fase belajar tingkat ke tiga akan banyak menerima feet-back tentang jalannya gerakan dari analisator kinestik. Dengan pengertian lain bahwa individu yang bersangkutan akn banyak menerima umpan balik.

D.Ciri-ciri Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga dan Implikasinya Kedalam Proses Pembelajaran.
Fase ini untuk menstabilkan kemampuan kordinasi halus yang telah dikuasai. Proses pembelajaran diarahkan untuk pembentukan kemampuan transper dari keterampilan-keterampilan motorik yang telah dikuasai tersebut pada berbagai situasi dan kondisi. Oleh karena itu, haruslah menjadi perhatian guru pendidikan jasmani akan memberikan latihan-latihan yang sesiai dengan karakter-karakter kemampuan yang di milki setiap individu.
Penyesuain tingkat kesulitan materi pengajaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Materi yang disajikan dalam bentuk-betuk latihan yang akan diberikan harus dapat meransang kemampuandan keterampilan motorik didik untuk mengalami peningkatan kualitas kemampuan dan keterampilan motorik yang telah mereka kuasai.
Aspek lain yang harus mendapatkan perhatian dari guru pendidikan jasmani adalah penekanan latihan. Penekanan latihan dalam proses pembelajaran pada fase belajar tingkat ketiga ini harus lebih diarahkan pada peningkatan kemampuan peserta didik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mendeteksi kesalahan-kesalahan gerakan yang terjadi pada pelaksanaan gerakan berlangsung.
Bentuk latihan lain yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran adalah latihan dalam bentuk mental training. Misalnya memberikan latihan untuk membangun kontustruksi-konstruksi gerakan atau menyusun program gerakan, atau latihan-latihan yang dapat mengarahkan pe4ningkatan kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan secara tepat dan cepat untuk mengatasi berbagai situasi yang bermasalah. Untuk memantapkan hasil yang diperoleh dari latihan mental training diberikan beberapa kali, lalu dilanjutkan dengan latihan-latihan pelaksanaan sesuai dengan program gerakan. Latihan mental ini akan lebih bermanfaat lagi bila latihan diarahkan pada perhitungan kecepatan bagian gerakan yaitu:

- Kemampuan mengantisipasi perubahan situasi yang akan terjadi dan efek dari perubahan tersebut.
- Kempuan ketepatan gerakan.
- Kemampuan melaksanakan gerakan secara ekonomis, baik dari segi waktu, tenaga maupun ruang yang terpakai.
- Kemampuan pengambilan keputusan dengan cepat
Proses pembelajaran adalah prinsip penyelenggaraan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pembelajaran cbsa pendidikan jasmani di sekolah guru masih dominan dalam pengambilan keputusan baik dalam menentukan bentuk-bentuk proses intekrasi yang terjadi maupun dalam didalam menetukan skenario proses penbelajaran itu sendiri. Selain itu ada juga guru pendidikan jasmani yang terlalu luas dalam menerjemahkan atau mengambil pengertian tentang prinsip CBSA. Ini sering membiarkan peserta didiknya dalam penyelenggaraan pengajaran pendidikan jasmani melakukan apa saja yang di inginkan mereka.
Pada prinsip CBSA menuntut keaktifan guru dan murid dalam proses pembelajaran. Tugas guru dalam penyelenggaraan CBSA adalah memikirkan, menganalisis situasi dan kondisi proses pembelajaran untuk mengarahkan atau memungkinkan peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran.




Pendukung guru dalam pembelajaran CBSA antara lain:

 Bergerak, berlari, melompat, berkejar-kejaran sudah merupakan kebutuhan alami para peserta didik.
 Situasi pengajaran pendidikan jasmani tidak sama dengan bidang study yang lain.
 Hal yang disajikan dapat meransang stimulus terhadap peserta didik untuk bergerak.
 Mengajak peserta didik untuk bersipat sportif.
 Menimbulkan semangat, melalui psikis yang dimilikinya.








MODEL INKLUSI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
Ditulis oleh Cucu Hidayat
Cucu Hidayat, Drs., M.Pd. adalah dosen Kopertis Wilayah IV yang dipekerjakan pada Program Studi Pendidikan
Olah Raga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Abstract: The purpose of the
research is to find out the effects of teaching style and student attitude toward the physical education learning outcome.
The research was conducted to the students at the eigth Secondary School Tasikmalaya, in period of 2007/2008 with
samples 40 students of the seventh grade selected randomly. The result of the research conclusion that there are: (1)
The students physical education learning outcome by using inclution teaching style is better than those by practice
teaching style (2) The students who have positif attitude, and used inclution teaching style is better than those using
practice teaching style of physical education learning outcome (3) The students who have negative attitude, and used
practice teaching style is better than those using inclution teaching style of physical education laarning outcome (4)
There is an interaction between teaching style and student attitude toward of students physical education learning
outcome. So the students physical education learning outcome who have positif attitude can be improved by using
inclution teaching style. Keywords: inclution teaching style, practice teaching style
A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan
keseluruhan, yang bertujuan untuk mengembangkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, pertumbuhan dan perkembangan intelektual, sosial dan emoslonal
anak sebagian besar terjadi melalui aktivitas gerak atau motorik yang dilakukan anak. Pendidikan jasmani menekankan
aspek pendidikan yang bersifat menyeluruh antara lain kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis,
stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral, yang merupakan tujuan pendidikan pada
umumnya. Atau secara spesifik melalui pembelajaran pendidikan jasmani, siswa melakukan kegiatan berupa permainan
(game), dan berolahraga yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Meskipun demikian unsur
prestasi dan kompetisi juga terdapat di dalamnya dan dimanfaatkan sebagai alat pendidikan. Sedangkan tujuan
pendidikan jasmani di Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi aspek-aspek sebagai berikut. (1) mengembangkan
kepribadian yang kuat, mengembangkan sikap cinta damai, mengembangkan sikap sosial dan mengembangkan sikap
toleransi dalam kontek kemajemukan budaya, etnis dan agama. (2) Mengembangkan sikap sportif, sikap jujur, sikap
disiplin, sikap bertanggung jawab, sikap kerja sama, sikap percaya diri, dan melatih demokrasi melalui aktivitas jasmani,
melalui aktivitas permainan, dan melalui aktivitas olahraga. (3) Mengembangkan keterampilan-keterampilan gerak dan
keterampilan berbagai macam permainan dan olahraga (aktivitas luar sekolah atau alam bebas). (4) Mengembangkan
keterampilan pengelolaan diri untuk mengembangkan dan memelihara kebugaran melalui aktivitas jasmani dan
olahraga. (5) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan mengembangkan keterampilan
untuk menjaga keselamatan orang lain atau lingkungannya. (6) Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani
dan olahraga sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, untuk memelihara kebugaran, dan membiasakan pola hidup
sehat. Dan (7) Mampu memanfaatkan waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif. Berdasarkan tujuan
pendidikan jasmani di atas, maka Skolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), merupakan tempat mengembangkan dan
membina anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang, serta tempat pembelajaran keterampilan gerak cabang
olahraga secara harmonis. Karena masa anak-anak merupakan masa yang sangat penting untuk memperbaiki dan
menyelaraskan gerakan-gerakan mendasar, sehingga untuk pengembangan keterampiIan olahraga selanjutnya mereka
tidak mengalami hambatan yang berarti ketika mempelajari keterampilan motorik pada tingkat yang lebih sulit. Sejalan
dengan tujuan pendidikan jasmani di atas, maka pendidikan jasmani merupakan suatu sarana pendidikan yang
bertujuan mengembangkan kepribadian siswa dalam rangka pembentukan manusia seutuhnya dan pelaksanaan
pendidikan jasmani tersebut berhubungan erat dengan usaha-usaha pendidikan yang teratur, terencana dan
berkelanjutan dimulai dari jenjang sekolah dasar sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Tujuan pelaksanaan
pendidikan jasmani di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), apabila dilihat dari perkembangan gerak anak, maka
tujuan pelaksanaan pendidikan jasmani mengarah pada proses berlangsungnya gerakan. Sehubungan dengan tujuan
pendidikan jasmani tersebut di atas, maka titik berat tujuan pendidikan jasmani di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
terletak pada proses jalannya gerakan. Sehingga hasil pembelajarannya dapat diukur dengan menilai hasil unjuk kerja
anak saat mempelajari gerakan. Hal ini berarti bahwa hasiI pembelajaran siswa dalam pendidikan jasmani yang
berhubungan dengan keterampilan olahraga dapat dinilai dengan kebenaran gerak. Adapun ruang lingkup mata
pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) berdasarkan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dijabarkan melalui lembar kerja
siswa pada kelas VII pada semester satu meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1) aktivitas permainan dan cabang
olahraga sepak bola, (2) aktivitas permainan dan cabang olahraga atletik, (3) aktivitas permainan dan cabang olahraga
pilihan, (4) aktivitas pengembangan cabang olahraga senam, (5) aktivitas cabang olahraga uji diri (cabang olahraga
senam lantai), (6) aktivitas ritmik (senam kesegaran jasmani 2000), (7) aktivitas cabang olahraga air (renang), dan (8)
aktivitas luar sekolah (out door education), (a) orientasi lingkungan olahraga dan (b) orientasi lingkungan rekreasi ).
Dalam upaya mencapai hasil belajar yang baik, dalam pembelajaran pendidikan jasmani, dan khususnya pembelajaran
teknik gerakan lompat tinggi gaya straddle, maka guru pendidikan jasmani perlu mengupayakan model pembelajaran
yang efektif dan atraktif. Untuk itu guru pendidikan jasmani harus berusaha seoptimal mungkin untuk mempengaruhi
siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, yaitu dengan cara menyajikan bentuk-bentuk pembelajaran
keterampilan gerak yang baik dan benar, agar dapat mendorong siswa untuk memahami, mengerti, dan mampu
melakukannya. Peran guru dalam proses pendidikan jasmani di antaranya adalah menentukan dan memilih gaya
pembelajaran yang tepat dan efektif agar siswa dapat mengerti dan memahami materi pembelajaran yang disajikan
sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kemampuan guru memilih dan menyajikan materi pembelajaran ditentukan olen
EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budaya
http://educare.e-fkipunla.net
Generated: 8 February, 2009, 13:05
________________________________________
Page 2
kemampuan dan pengalamannya dalam pembelajaran. Sehubungan dengan itu, maka untuk melakukan proses
pembelajaran pendidikan jasmani, dipilih gaya pembelajaran yang tepat dan mudah diterapkan kepada siswa, sehingga
berbagai aktivitas gerak pendidikan jasmani dapat dikuasai dengan baik dan benar. Gaya pembelajaran tersebut adalah
gaya pembelajaran inklusi dan gaya pembelajaran latihan yang khusus hanya digunakan dalam pembelajarankan
peraktek pendidikan jasmani. Gaya pembelajaran inklusi dan gaya pembelajaran latihan merupakan dua gaya
pembelajaran yang jarang dipergunakan oleh guru, dalam praktek pembelajaran pendiddikan jasmani di Sekolah
Menengah Pertama (SMP). Padahal gaya pembelajaran ini sangat cocok diterapkan pada siswa SMP yang menuntut
perkembangan kreativitas, fisik dan mental yang optimal. Gaya pembelajaran inklusi, adalah suatu gaya pembelajaran
yang digunakan oleh guru, dengan cara menyajikan materi pembelajaran secara rinci dan menawarkan tingkat-tingkat
kesulitan yang berbeda secara berurutan, yang bertujuan agar siswa kreatif dan mendapatkan kemudahan dalam
mempelajari suatu keterampilan gerak, juga siswa diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan pada tingkat
kesulitan mana? untuk memulai belajar suatu gerakan. Serta diberi kebebasan dan keleluasaan pula untuk menentukan
berapa kali siswa harus mengulangi gerakan, dalam mempelajari suatu teknik gerakan dalam setiap pertemuan.
Sedangkan gaya pembelajaran latihan adalah merupakan suatu gaya pembelajaran yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa terhadap bentuk gerak. Dengan cara memberi tugas untuk
melakukan latihan sebanyak-banyaknya dengan cara mengulang-ulang, sehingga terjadi peningkatan dalam
mempelajari suatu teknik gerakan. Efisiensi dan efektivitas pembelajaran pendidikan jasmani juga terkait dengan
masalah konsep diri, motivasi, sikap, minat, dan aktivitas belajar siswa. Seorang siswa yang telah meraih keberhasilan
belajar secara dini dan cepat akan lebih terpacu dan menyenangi kegiatannya daripada seorang siswa yang belajar
lama apalagi tidak berhasil. Pengalaman gagal menyebabkan seorang siswa cenderung akan menghindari dan tidak
menyenangi kegiatan belajarnya. Oleh karena itulah untuk mengakomodir adanya perbedaan individual pada diri siswa,
dimasukkan sikap siswa terhadap pembelajaran pendidikan jasmani sebagai variabel atribut dalam penelitian ini. 2.
Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut: a. Secara keseluruhan, apakah terdapat perbedaan hasil belajar pendidikan jasmani antara kelompok siswa
yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi dengan kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran latihan ?
b. Bagi siswa yang memiliki sikap positif terhadap pendidikan jasmani, apakah terdapat perbedaan hasil belajar
pendidikan jasmani antara kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi dengan kelompok siswa yang
menggunakan gaya pembelajaran latihan? c. Bagi siswa yang memiliki sikap negatif terhadap pendidikan jasmani,
apakah terdapat perbedaan hasil belajar pendidikan jasmani antara kelompok siswa yang menggunakan gaya
pembelajaran inklusi dengan kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran latihan? d. Apakah terdapat
pengaruh interaksi antara gaya pembelajaran dan sikap terhadap hasil belajar pendidikan jasmani?
3. Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya pembelajaran dan sikap
siswa terhadap pendidikan jasmani terhadap hasil belajar pendidikan jasmani siswa Sekolah Menengah Pertama.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: a. perbedaan hasil belajar pendidikan jasmani antara
kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi dengan kelompok siswa yang menggunakan gaya
pembelajaran latihan, secara keseluruhan? b. perbedaan hasil belajar pendidikan jasmani antara kelompok siswa yang
menggunakan gaya pembelajaran inklusi dengan kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran latihan, bagi
siswa yang memiliki sikap positif terhadap pendidikan jasmani? c. perbedaan hasil belajar pendidikan jasmani antara
kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi dengan kelompok siswa yang menggunakan gaya
pembelajaran latihan bagi siswa yang memiliki bagi siswa yang memiliki sikap negatif terhadap pendidikan jasmani? d.
pengaruh interaksi antara gaya pembelajaran dan sikap siswa terhadap hasil belajar pendidikan jasmani? 4. Kegunaan
Penelitian a. Hasil penelitian yang diperoleh berguna sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan peningkatan
kualitas pembelajaran pendidikan jasmani. b. Bagi Para Guru Pendidikan Jasmani, hasil penelitian ini dapat dijadikan
alternatif pilihan cara pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif dan efisien. c. Bagi Pengembangan kurikulum, hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk menyempurnakan kurikulum pendidikan jasmani yang sudah ada.
B. Metodologi Penelitian 1. Metode dan Disain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen dengan rancangan (disain) faktorial 2X2. Sebagai variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar
pendidikan jasmani. Variabel bebas pertama sebagai perlakuan (Variabel eksperimen) adalah gaya pembelajaran, yaitu
gaya pembelajaran inklusi sebagai eksperimen dan gaya pembelajaran latihan sebagai kontrol. Variabel bebas kedua
sebagai atribut adalah sikap siswa terhadap pendidikan jasmani, yang dibedakan menjadi sikap yang positif, dan sikap
negatif. 2. Populasi dan Sampel Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Menengah
Pertama (SMPN 8) Kota Tasikmalaya Jawa Barat. Sedangkan populasi terjangkau adalah seluruh siswa putera kelas
tujuh tahun ajaran 2007/2008 sebanyak 128 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui tahap-tahap sebagai
berikut: Pertama, menentukan populasi terjangkau, yaitu siswa putera kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama (SMPN 8)
Kota Tasikmalaya Jawa Barat. sebanyak 128 orang. Kedua, secara random mengambil sampel sebanyak 80 orang
siswa putera kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama (SMPN 8) Kota Tasikmalaya dari kerangka sampel (sampling
frame). Ketiga, dari 80 orang siswa tersebut dibagi dua kelompok dengan cara dirandom untuk ditempatkan pada
kelompok siswa yang diajar dengan gaya pembelajaran inklusi dan kelompok siswa yang diajar dengan gaya
pembelajaran latihan, sehingga masing-masing kelompok terdiri dari 40 orang. Keempat, setelah diberi perlakuan
kepada masing-masing kelompok kemudian diberikan tes motivasi berprestasi. Hasilnya, dari masing-masing kelompok
kemudian diranking mulai dari skor terbesar sampai yang terkecil, untuk menentukan kelompok siswa yang memiliki
kategori motivasi berprestasi tinggi dan rendah. Atas dasar hasil tes tersebut, diperoleh jumlah subjek dari masing-
masing kelompok sebanyak 20 orang, yakni 27 % sebagai kelompok atas, yang dikategorikan sebagai siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi masing-masing sebanyak 10 orang (27% dari 40 = 10,8 diambil 10 orang), dan 27 %
sebagai kelompok bawah, yang dapat dikategorikan sebagai siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah juga
EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budaya
http://educare.e-fkipunla.net
Generated: 8 February, 2009, 13:05
________________________________________
Page 3
masing-masing sebanyak 10 orang (27% dari 38 = 10,8 diambil 10 orang), sehingga secara keseluruhan jumlah subjek
yang terlibat dalam penelitian ini adalah berjumlah 40 orang yang tergabung dalam empat kelompok perlakuan. Bagi
subjek yang skor sikapnya berada di antara kedua kategori tersebut tetap diikutsertakan dalam penelitian. Kelima,
menempatkan sampel yang terpilih berdasarkan sikapnya, sehingga terbentuk kelompok A1 (kelompok yang diajar
dengan menggunakan gaya pembelajaran inklusi) dan kelompok A2 (kelompok yang diajar dengan menggunakan gaya
pembelajaran latihan). 3. Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
varians (ANAVA) dua jalur, dan diuji lanjut dengan menggunakan uji Tukey, setelah terlebih dahulu dilakukan uji
persyaratan analisis varians (ANAVA), yakni uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan dengan
menggunakan uji Lilliefors dengan taraf signifikansi α = 0,05. Sedangkan untuk uji homogenitas dilakukan dengan
menggunakan uji Bartllet dengan taraf signifikansi α = 0,05. C. Pembahasan Hasil Penelitian Hasil pengujian
hipotesis pertama menunjukan bahwa, secara keseluruhan terdapat perbedaan hasil belajar pendidikan jasmani yang
berarti antara kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi dengan kelompok siswa yang
menggunakan gaya pembelajaran latihan. Gaya pembelajaran inklusi memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan
dengan gaya pembelajaran latihan terhadap hasil belajar pendidikan jasmani siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Kelas VII (tujuh). Pembelajaran pendidikan jasmani menggunakan gaya pembelajaran inklusi memberikan lebih banyak
kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai potensi masing-masing individu. Setiap individu
diberi kebebasan menentukan kegiatan belajar dalam hal memulai pembelajaran, pelaksanaan melakukan tugas-tugas
gerak, penilaian hingga menentukan target kegiatan belajar berikutnya, sehingga akan membangkitkan motivasi dan
merangsang kreativitas siswa. Di samping itu peran guru tidak terlalu dominan, karena guru tidak langsung menuntun
siswa seperti yang dilakukan dalam gaya pembelajaran latihan. Sedangkan dalam gaya pembelajaran latihan siswa
dilatih berbagai keterampilan, tahap demi tahap atau bagian demi bagian (tidak langsung pada sasaran), sehingga peran
guru di sini sangat dominan, karena harus memberi contoh, di samping itu suasana pembelajaran atau suasana berlatih
juga monoton serta kurang variatif sehingga ada kecenderungan membosankan, sehingga pada akhirnya hasil belajar
pendidikan jasmani yang diharapkan kurang maksimal. Hasil pengujian hipotesis kedua menyimpulkan bahwa terdapat
perbedaan hasil belajar pendidikan jasmani yang berarti, antara kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran
inklusi dan kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran latihan, bagi kelompok siswa yang memiliki sikap
positif. Gaya pembelajaran inklusi memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan dengan kelompok siswa yang
menggunakan gaya pembelajaran latihan terhadap hasil belajar pendidikan jasmani. Pembelajaran pendidikan jasmani
dengan menggunakan gaya pembelajaran inklusi, dilakukan dengan memberi kebebasan kepada siswa untuk
melakukan kegiatan belajarnya secara mandiri, dari mulai menentukan awal kegiatan belajar, pelaksanaan belajar
hingga penilaian kemajuan belajar serta menentukan kegiatan belajar berikutnya. Hal ini memungkinkan manakala siswa
memiliki sikap yang positif terhadap pembelajaran pendidikan jasmani. Sikap positif siswa terhadap pembelajaran
pendidikan jasmani biasanya diiringi kesediaan siswa untuk merespon setiap rangsang yang disediakan guru. Dengan
demikian siswa akan senantiasa melakukan kegiatan belajar secara aktif walau tanpa diawasi secara ketat oleh guru.
Kondisi ini akan terjadi sebaliknya bila siswa memiliki sikap yang negatif terhadap pembelajaran pendidikan jasmani,
yang biasanya ditandai dengan sikap tak acuh siswa terhadap program yang ditawarkan guru. Kurangnya pengawasan
guru, arahan dan bimbingan yang dilakukan secara ketat akan mengakibatkan siswa tidak bergairah dan malas belajar.
Sedangkan hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang berarti hasil belajar
pendidikan jasmani siswa antara yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi dan yang menggunakan gaya
pembelajaran latihan, bagi kelompok siswa yang memilik sikap negatif. Kelompok siswa yang menggunakan gaya
pembelajaran latihan lebih baik dari pada kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi, bagi siswa
yang memiliki sikap negatif. Gaya pembelajaran latihan menuntut guru lebih aktif, baik dalam hal menentukan kegiatan
awal belajar siswa, mengontrol secara ketat pelaksanaan tugas gerak siswa, menilai hasil belajar siswa, serta
menentukan kegiatan belajar siswa berikutnya. Dengan demikian bagi siswa yang memiliki sikap negatif gaya
pembelajaran sepertiini lebih cocok karena siswa dipaksa untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan kehendak guru.
Sebaliknya bagi siswa yang memiliki sikap positif pengawasan yang terlalu ketat cenderung menghambat terhadap
kreativitas dan kemajuan belajarnya. Maka dengan demikian gaya pembelajaran latihan kurang diminati oleh siswa yang
memiliki sikap yang positif, akan tetapi dianggap cocok bagi siswa yang memiliki sikap negatif. Atau dengan kata lain,
gaya pembelajaran latihan lebih cocok digunakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani bagi siswa yang memiliki
sikap negatif dari pada menggunakan gaya pembelajaran inklusi. Hasil pengujian hipotesis keempat melalui analisis
varians (ANAVA) diperoleh hasil, bahwa terdapat pengaruh interaksi antara gaya pembelajaran dengan sikap siswa
terhadap hasil belajar pendidikan jasmani siswa SMP kelas tujuh. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa hasil
belajar pendidikan jasmani, selain dipengaruhi oleh gaya pembelajaran yang digunakan, juga dipengaruhi oleh kontribusi
faktor internal siswa seperti sikap siswa terhadap,pembelajaran pendidikan jasmani. Interaksi keduanya dapat dilihat
dari pelaksanaan gaya pembelajaran yang melibatkan komponen fisik, teknik, taktik dan mental di dalam
pelaksanaannya. Aspek fisik dan teknik digunakan di dalam melaksanakan berbagai aktivitas gerak dalam pendidikan
jasmani. Sedangkan aspek mental dipergunakan untuk menjaga motivasi dalam pembelajaran. Dari hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun gaya pembelajaran yang cocok untuk digunakan dalam berbagai situasi dan
kondisi. Dalam aplikasinya, gaya pembalajaran apapun yang digunakan, semua harus tetap mempertimbagkan kondisi-
kondisi tertentu, baik faktor internal maupun eksternal siswa untuk meningkatkan hasil belajar pendidikan jasmani. D.
Kesimpulan Berdasarkan temuan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut: Pertama,
secara keseluruhan hasil belajar pendidikan jasmani kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran ingklusi
lebih baik dari pada kelompok siswa yang menggunakan gaya pembelajaran latihan. Kedua, bagi siswa yang memiliki
sikap positif, hasil belajar pendidikan jasmani siswa yang menggunakan gaya pembelajaran inklusi lebih baik dari pada
yang menggunakan gaya pembelajaran latihan. Ketiga, bagi siswa yang memiliki sikap negatif, hasil belajar pendidikan






Fitts / Posner Belajar dari 3 tahapan dan Olahraga Panggilan Tes
10 November 2008
oleh Chad Englehart


Banyak atlet hari ini ada keinginan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dari athletics. Baik itu merupakan atlet pergi dari Tinggi ke Jr High School, atau membuat atlet peralihan dari sekolah ke perguruan tinggi dan besar athletics satu perguruan ke athletics profesional. Seluruh Amerika, ada mimpi atlet muda untuk bertanding di atas mereka olahraga; banyak mencoba hanya beberapa berhasil. Untuk bertanding di tingkat profesional yang diperlukan semua intangibles latihan, kerja keras, hati, keinginan, keahlian, kekuatan, kecepatan, dll, tetapi, salah satu yang paling penting adalah traits kata yang sederhana dan ia genetika. Beberapa atlet dapat mereka atas potensi genetik hanya menjalankan 4.97second 40 yard dash atau taburan mereka cepat bola di 78mph dan yang ok, tapi tanyakan pada diri Anda sebagai orang tua atau mantan atlet, saya max out my potensi? Kapan saya mulai benar-benar pelatihan dan pendidikan yang saya pelatih mengenai bagaimana dan mengapa? Apakah saya pelatih mengajarkan saya cara yang tepat untuk melatih dan melaksanakan tugas-tugas yang berbeda, drills, atau ujian? Seperti banyak dari hari ini kekuatan dan kecepatan spesialis, kami telah mendengar dari semua NFL Combine berbeda dan menggabungkan dilaksanakan di seluruh bangsa yang tes yang atletis dengan kemampuan atlet. Salah satu pertanyaan di sepak bola adalah cara yang cepat atlet dari 40 yard dash adalah, dalam baseball adalah cara yang cepat atlet dapat menjalankan 30 atau 60 yard dash. Beberapa atlet yang lahir dengan tidak dapat menjalankan kedua 4,23 atau 40 yard dash berbakat hadiah lainnya seperti yang dapat mengadakan baseball 98mph hanya 18 tahun, tetapi bagaimana dengan atlet yang tidak diberkati dengan kemampuan dan genetika. I am a kecepatan dan kekuatan profesional dan saya akan memberitahu Anda hal-hal ini dapat diajarkan. Dalam teori, setiap atlet dapat melatih dan menjalankan 4,2 detik atau 40 yard dash melemparkan 98mph NO tetapi jika coached baik dan jika seorang atlet mulai awal cukup dalam kehidupan mereka ke program tubuh mereka maka mereka bisa mendapatkan yang terbaik dari mereka genetic make-up. Dalam sebuah atlet dari kehidupan mereka akan waktunya oleh pandu atau pelatih untuk melihat bagaimana cepat mereka. Perlu diketahui, hal ini tidak memberitahu coaches pramuka atau bagaimana atlet yang berbakat pada olahraga tertentu, tetapi mereka hanya kecepatan. Oleh karena itu, ini adalah ujian dan harus diperlakukan seperti ujian yang berarti telah dididik dan belajar untuk ujian. Ini membawa saya ke Fitts dan Posner Tiga Tahap-model pembelajaran yang motor keterampilan.
Paul Fitts dan Michael Posner disajikan tiga tahap model pembelajaran pada tahun 1967 dan sampai hari ini dianggap berlaku di dunia motor belajar. Tahap pertama disebut tahap kognitif belajar adalah ketika pemula berfokus pada masalah cognitively berorientasi (Magill 265). Ini adalah saat pemula mencoba untuk menjawab pertanyaan seperti: Apa tujuan dari 40 halaman sprint? Dimana saya harus berada pada sisi garis datang dari tiga titik sudut? Bagaimana dan dimana saya tempat kaki saya? Bagaimana beban didistribusikan? Ada banyak pertanyaan yang seorang atlet ketika mereka telah terlebih dahulu mencoba untuk mempelajari tiga titik sikap untuk 40 yard dash. Dan yang mengejutkan atlet yang lama, maka ia sulit untuk mengajar yang benar dari mekanik dimulai. Hal ini karena mereka telah melakukannya dengan cara sebagian besar mereka hidup. Ingat lebih mudah untuk mengajar baru dari kebiasaan untuk mencoba untuk memperbaiki kebiasaan buruk. Fitts dan Posner menjelaskan peserta didik harus terlibat dalam kegiatan kognitif sebagai ia mendengarkan petunjuk dan menerima umpan balik dari instruktur (Magill 265). Tentu saja pada tahap pertama yang learner atau atlet yang akan membuat banyak kesalahan dan kesalahan yang membuat mereka memiliki kecenderungan untuk menjadi besar. Para peserta didik atau atlet dalam tahap ini adalah sadar konyol. Ini adalah saat atlet menyadari bahwa mereka tidak terampil sebagai mungkin mereka berpikir bahwa mereka atau pemikiran mereka dapat. Salah satu cara untuk membantu atlet ini melalui tahap pertama dan menunjukkan kesalahan mereka adalah melalui video analisis. Dari pengalaman, setelah peserta didik atau atlet dapat menonton mereka kesalahan mereka cenderung benar mereka di tingkat yang lebih cepat.





SUMBER

Olahraga Dan Fenomena Sosial






Dewasa ini olahraga menjadi suatu fenomena budaya yang tersohor dan kompleks, mempunyai dua konsekuensi yaitu fositif dan negatif untuk individu dan masyarakat. Hal itu mempunyai makna secara menyeluruh, jika tidak semuanya, tentu dikondisikan oleh institusi sosial, termasuk pendidikan, ekonomi, seni, politik, hukum, komunikasi massa dan diplomasi internasional. Mencakup beberapa penilaian, hampir setiap orang termasuk didalamnya, yang mengambil bagian.
Pada ketentuan dari komitmen publik terhadap olahraga, saat ini, telah diterima dari berbagai studi seperti fenomena sosial. Agaknya keberadaan ambikuitas olahraga cukup besar untuk menjamin para ilmuan sosial dan berbagai penguraian yang jelas, untuk menjelaskan sendiri, pentingnya desakan sosial yang bersifat non eksis pada olahraga.
Tanpa menyepelekan batasan studi olahraga, bahwa konsep suatu istilah ambikuitas mempunyai perbedaan makna untuk berbagai ragam pemahaman masyarakat. Ambikuitas merupakan upaya untuk menentukan cakupan topik pembahasan olahraga dari berbagai pemberitaan lewat surat kabar setiap hari. Ditemukan ragam kompetisi olahraga, iklan atau fashion olahraga, kebijakan-kebijakan mengenai perbaikan skill olahraga dalam penanganan tertentu, yang mudah dinyatakan dalam organisasi olahraga termasuk permasalahan mengenai rekrutmen atlet, keberhasilan dan kegagalan dalam pelaporan keuangan, kesenjangan politik dan skandal berbagai event olahraga.


Adapun tinjauan batasan dari olahraga, agaknya memberikan suatu penilaian pada berbagai media massa, suatu pemahaman yang kompleks dari ragam fenomena olahraga yang memerlukan adanya suatu pendekatan konseptual secara sistimatik. Yang meliputi beberapa tahapan arah dan pertimbangan dalam berbagai istilah yang menjelaskan tingkatan analisis dalam olahraga yang ditinjau dari aspek akurasi, lembaga sosial, dan bentuk-bentuk cakupan sosial
1. Olahraga sebagai suatu akurasi permainan.
Mungkin sering memikirkan arti olahraga, secara khusus dari suatu analitik prospektif, bagaimanapun olahraga menjadi tunggal yang ditinjau sebagai suatu akurasi permainan aktual. Dalam paragraph tersebut terdapat karakteristik dasar dari permainan yang diuraikan secara singkat, dan referensi secara kontinu dibuat untuk olahraga sebagai suatu tipe khusus dari permainan. Dengan cara mendefenisikan suatu permainan dalam berbagai bentuk persaingan permainan dapat ditangani dengan menentukan kemampuan skill fisik, strategi atau perubahan, yang dikerjakan secara tunggal atau dalam berbagai kombinasi.
1.1 Permainan
Permainan kompetisi adalah pemberian konteks yang mempunyai satu atau lebih elemen-elemen permainan. Suatu permainan mempunyai tujuan yang tidak dapat dipertimbangkan secara sederhana sebagai suatu sub kelas permainan, sebab olahraga secara logis menjadi suatu kerangka permainan yang menjadi pembenahan suatu olahraga professional yang dipertimbangkan menurut kaidah defenisi yang saling terkait. Hal tersebut memerlukan satu aspek atau lebih yang mempunyai peranan dasar sebagai komponen-komponen permainan dan event-event bentuk organisasi yang lebih tinggi dari suatu olahraga yang tidak hanya komplek memberikan penilaian sesuai tingkat karakteristik permainan.
Pengembangan karakteristik formal memainkan peranan yang disebut sebagai aktivitas bebas dalam mengembangkan suatgu kesadaran yang berada yang sama penyerapan pemahamnan permainan terjadi secara intensif dan beradaptasi suatu aktivitas yang berhubungan material, dan nomn profit yang dapat memberi keuntungan terhadapnya. Proses dalam memberikan aturan tetap dan pengem- bangan prilaku secara terdata. Memajukan bentuk dari suatu pengelompokan sosial cenderung meliputi tingkat tekanan yang dirasakan berbeda-beda dari suatu uraian umum dalam berbagai perbedaan atau makna lainnya (Huizinga, 1995:13).
Caollois (1961) memberi batasan berbagai peranan secara aktif meliputi kebebasan, penyebaran, ketidakpastian, tidak prodoktif terhadap perubahan aturan dan karakteristik yang menumbuhkan suatu keyakinan. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a) Kebebasan
Kebebasan dalam permainan adalah suatu aktivitas sukarela, yaitu tidak merasa tertekan untuk bermain, permainan dilakukan dalam suatu waktu yang bebas, dan permainan dapat memberikan inisiatif dan pemenuhan keinginan. Karakteristik dari permainan, termasuk beberapa bentuk dari permainan olahraga amatir.
b) Penyebaran
Huizinga dan Coillois mengartikan penyebaran bermain secara terbagai-bagi dan secara temporal terbatas. Kelayakan bermain ini secara tertentu benar dalam olahraga. Contoh banyaknya bentuk olahraga yang dapat dilakukan secara terbagi-bagi sesuai lingkup sosial millinium seperti pada lapangan matador banteng, stadion sepak bola, lapangan golf, lomba pacuan kuda dan kolam renang. Selanjutnya dengan beberapa pengecualian bentuk olahraga yang mempunyai aturan yang secara khusus dari durasi suatu konteks yang diberikan.
c) Ketidakpastian
Ketentuan atau hasil dari permainan tidak dapat ditentukan sebelum menanganinya. Sama halnya melakukan suatu penentuan karakteristik dari semua permainan yang dinyatakan dengan penanganan yang tidak pasti. Mungkin itu adalah faktor yang lebih dari suatu desakan atau tekanan dari konteks bermain. Ketentuan dari berbagai persaingan yang tidak sesuai adalah bentuk rutinitas untuk konteks dan muatan spectator terhadap upaya-upaya dalam meningkatkan keseimbangan antara pihak oposisi yang tercatat sebagai menentang kelayakan olahraga. Upaya-upaya secara bentuk berfokus pada permasalahan ukuran, skill dan pengalaman. Contoh upaya-upaya pengembangan kesamaan berdasarkan ukuran formasi dari bahasa atlet dan berbagai kaitan dengan kompensasi organisasi sosial memberikan ukuran dan rancangan dari suatu bobot kelas untuk permainan tinju dan gulat. Ilustarasi dari upaya dalam menentukan tingkat kesamaan di antara konteks yang berbasis skill dan pengalaman yang diterapkan menjadi pegangan untuk para pemain bolwing, golf, sesuai ragam tingkat rancangan aturan dari persaingan dalam suatu organisasi, termasuk berbagai tim pemain junior, kelas permainan atlet sekolah dan pemain dari draf tim baru yang harus menggunakan aturan liga professional.
d) Perubahan aturan
Semua tipe permainan dinyatakan berdasarkan aturan, yang bersifat formal atau non formal. Hal itu menyarankan bahwa olahraga dapat dibedakan dari permainan yang umum sesuai dengan pernyataan yang biasanya mempunyai ragam aturan yang lebih besar dan mempunyai jumlah norma formal yang absolut seperti uraian tertulis dan praturan normal sama halnya, sangsi yang dikenakan dalam jumlah yang bersesuaian dari berbagai pelanggaran permainan dalam olahraga. Contoh pemain basket ball harus bermain secara konsisten dengan tetap mematuhi aturan-aturan dan ketentuan permainan, pemain hoki harus mempunyai aturan waktu tertentu, berbagai aturan main dalam kotak finalti setelah permainan dilangsungkan, dan pemain sepak bola tidak dapat meninggalkan permainan tanpa ditentukan oleh wasit.
Dengan respek terhadap tata normative permainan dan olahraga, suatu kelayakan eksplisit biasanya membatasi kriteria definitip untuk menentukan pemenang. Adapun aturan yang benar dari beberapa aturan yang mengikat, banyak kontestan yang melakukan aturan ambivalent yang sesuai dengan ketentuan batas waktu yang ditentukan final. Ragam makna pemenang dalam olahraga disesuaikan berdasarkan kesepakatan. Adapun yang relavan untuk diamati dalam berbagai persaingan olahraga adalah tingkat kapasitas yang tinggi, suatu seri konteks pertandingan gelanggang olahraga (seri dunia) dalam suatu upaya dalam suatu upaya dalam menetapkan suatu aturan yang menjadi unsur-unsur perubahan dari suatu kemenangan yang berbasis kesepakatan. Suatu tim disebut mendapatkan suatu kemenangan apabila kemenangan tersebut diakui oleh lawan bermain, bahkan diberikan suatu penghargaan lebih baik atau lebih unggul sesuai yang diharapkan.
e) Membuat keyakinan.
Huizinga dan Coillois mengistilahkan taraf signifikan terhadap suatu keyakinan terhadap permainan yang dilakukan diluar ordinary atau real dari suatu kelangsungan yang dapat dibedakan dengan suatu penetapan kualitas. Sementara karakteristik ini memainkan peranan dalam olahraga, yang menarik untuk dicatat bahwa pernyataan tersebut dinyatakan Vablen bahwa cakupan olahraga mempunyai karakteristik yang membuat keyakinan terhadap permainan dan eksploitasi kepada anak, khususnya kepada anak laki-laki, secara terlingkupi didalamnya. Membuat suatu keyakinan terhadap suatu proporsi yang sama dalam semua olahraga, memberikan adanya suatu apresiasi taraf kepercayaan secara menyeluruh (Vablen, 1934: 256)
Huizinga (1955) telah mengamati bahwa penetapan kualitas dari suatu permainan membutuhkan adanya suatu kesadaran yang memainkan peranan terhadap keseriusan contoh, kejadian menangani perbincangan professional yang menyatakan adanya bentuk suatu tindakan “pekerjaan nyata”. Sama halnya, beberapa penulisan yang menjadi penerapan dalam menentukan suatu esensi dari suatu olahraga. Ronger Kahn memberikan contoh sebagai berikut:
Banyak hal penting yang dapat menjadi aspek pelaporan dari olahraga Amerika yang secara diam-diam yang dapat diteliti suatu pemahaman rasional. Termasuk upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi berbagai kejadian penting dalam suatu permainan olahraga dan berbagai permainan semi olahraga yang dapat dilalui berdasarkan perjuangan untuk bersikap sesuai dengan tingkat jastifikasi dalam berbagai konstribusi yang dapat dikembangkan dalam permainan olahraga (Kahm, 1957: 10).
Sebaliknya Huizinga (1955) secara hati-hati menunjukkan bahwa kesadaran dari permainan hanya dilakukan sesuai dengan makna suatu ketentuan secara serius. Seperti contoh mempertimbangkan keseriusan terhadap berbagai perlakuan yang berbeda dari permainan golf, keseriusan tersebut menjadi penanganan yang harus dikemukakan berdasarkan tingkat permainan olahraga yang ada di Amerika.
Menerima kenyataan bahwa membuat kualitas yang lebih baik dari permainan mempunyai beberapa hal yang relavan terhadap olahraga, itu merupakan bentuk kesulitan secara empiris menjadi dasar dari permainan karakteristik ordinary – riil dalam permainan. Bagaimanapun dimensi sisi luar kehidupan nyata dari suatu permainan kemungkinannya dapat terlihat dalam: (1) Kualitas itu sendiri, (2) Penanganan artikel dan (3) Sumber potensi untuk aktualisasi diri atau produksi, maka kualitas itu sendiri.
Dalam setiap permainan, kontestan melakukan beberapa hal yang sama dan beberapa aspek realitas eksternal seperti berbagai bentuk ras, pendidikan, pekerjaan dan status keuangan yang menjadi atribut relavan untuk durasi dari suatu pemberian konteks olahraga.
Kendala artifical. Kendala yaitu penanganan individu dalam melakukan pekerjaan setiap hari tidak biasanya bersifat pra determinan yang rill sesuai cakupan terhadap kenyataan tertentu dan secara social memerlukan kondisi yang dapat ditemukan. Sebaliknya, dalam berbagai permainan penanganan secara artifical menentukan “taraf hidup dan mati” secara signifikan sebagai suatu kesulitan yang harus dilakukan seperti olahraga, mendaki gunung Alpine, yang biasanya secara esensial berkaitan dengan berbagai pengalaman pengalaman yang berharga.
Sumber sumber potensial. Sama halnya, itu telah diamati banyak kondisi kehidupan rill dikembangkan menurut struktur dan proses yang diperlukan untuk cakupan terhadap berbagai kendala yang dapat ditangani, meskipun dalam suatu permainan atau situasi pertandingan semua struktur dan proses diperlukan untuk mengidealkan berbagai penanganan defibrillates dan realisasi kemungkinan alternatif dari tindakan secara potensial yang tersedia.
Dalam jumlah yang demikian, pertandingan yang dimainkan secara bentuk satu atau lebih elemen permainan yaitu bebas, terbagi, tidak pasti, tidak produktif, terdata, dan membuat keyakinan. Unsur unsur tersebut yang memegang peranan permainan yang kompetitif.
1.2 Kompetisi
Kompetisi didefinisikan sebagai suatu perjuangan untuk supremasi antara dua atau lebih oposisi yang dihadapi. Kata frase “antara dua atau lebih oposisi yang dihadapi” adalah interprestasi yang agak membatasi terhadap kompensasi hubungan kompetetif antara manisia dan objek lainnya dari suatu pengertian, diantara animasi dan bukan animasi. Dengan demikian hubungan persaingan mencakup :
1. Persaingan antara satu individu dan individu lainnya seperti suatu pertandingan tinju atau sebuah pertarungan lari 100 meter.
2. Kompetisi antara satu tim terhadap tim lainnya seperti permainan hoki atau pacuan.
3. Kompetisi antara suatu individu atau suatu tim atau suatu objek animasi dari suatu pengertian antara pertarungan banteng atau pertarungan rusa.
4. Kompetisi suatu individu atau suatu tim dan sebuah objek tanpa animasi dari suatu pengertian seperti pertandinagn kanon air atau mendaki gunung.
5. Kompetisi antara suatu individu atau sebuah tim dan suatu standar “ideal seperti upaya individu untuk mengembangkan subuah rekor duia pada lari 150 meter atau suatu tim basket ball yang mencoba memecahkan rekor waktu. Kompetisi yang dianggap standar”ideal” juga mempunyai konseptual seperti penggunaan waktu atau ruang, atau sesuai dengan penanganannya tersendiri.
Klasifikasi dapat ditentukan diantara empat penerapan tersebut diatas yang mengilustrasikan makna frase dua atau lebih oposisi yang berhadapan dan dapat dikasifikasikan dari kompetisi parse. Adapun bagan yang harus mempunyai relevansi untuk tujuan tersebut, nilainya dibatasi oleh kenyataan bahwa kategori secara mutual eksklusif atau secara mutual inclusive. Adapun setiap atau detik melakukan kompetisi dalam berbagai pertarungan secara kompetetif mencakup cara cara yang sesuai terhadap individu atau tim yang memperhadapkan suatu standar “ideal” (suatu upaya untuk mengembangkan individu dan/atau rekor tim yang dicapai).
1.3 Penanganan Atribut : skill fisik,staraegi dan perubahan
Laporan dan saran yang mendasari ragam permainan dunia dapat diklasifikasikan pada basis penanganan atribut seperti :
1. Permainan skill fisik, dalam penanganan yang ditentukan oleh aktivitas permainan yang bergerak.
2. Permainan strategis, dalam penanganan yang ditentukan dengan pilihan rasional antara ketentuan yang memungkinkan dan
3. Permainan perubahan, yang mana penanganannya ditentukan oleh pertandinagn atau arti nyata yang tidak kontrol sebagai suatu yang ideal atau menyeluruh (Robert dan Sutton Smith 1962 hal.166)
Contoh bentuk pemainan secara relatif dari aktivitas kompetisi pada setiap kategori yang menjadi konteks berat ringan, suatu pertandingan seperti pertandingan catur dan pertandingan yang memerlukan pemikiran, secara respective. Banyaknya permainan, bagaimanapun memerlukan suatu pembauran tertentu permainan kartu atau permainan bort, memerlukan ilustrasi secara umum suatu kombinasi startegi dan perubahan. Adapun perubahan yang juga berkaitan dengan olahraga, aturannya ditentukan penaganannya dari konteks secara umum untuk suatu penanganan minimun dalam tata pemahaman tingkat pemahaman yang menjadi atribut terhadap keuungulan. Agaknya secara interistik terlihat bahwa aturan utama dari perubahan dalam sebuah pertandingan olahraga adalah penentuan tingkat kesamaan. Contoh jawatan official yang menetapkan pertandingan sepak bola secara acak untuk menentukan tim yang akan melakukan quickoff bidang penaganannya dan menentukan persaingan diantara upaya upaya yang menjamin adanya peluang kesamaan.
1.4 Penampakan Fisik
Adapun olahraga dan bentuk permainan mempunyai beberapa jumlah karakteristik, atribut utama dari dua penampakan fisik. Olahraga dapat dibedakan dari permainan yang memerlukan penggunaan pengembangan skill fisik dan kemampuannya (yang memerlukan pelatiahan) untuk menentukan oposisi objek pengertian. Adapun banyaknya permainan memerlukan suatu tingkatan minimun skill fisik, yang tidak biasanya permintaan taraf skill fisik yang diperlukan olhragawan. Gagasan yang telah dikembangkan dari skill fisik yang praktis dan pembelajran yang menyarankan upaya suatu tingkatan yang tinggi dari sutu profesi satu atau lebih kemampuan fisik umum yang relevan terhadap kompetisi olahraga (seperti kekuatan, kecepatan, ketahanan,dan ketepatan). Adapun konsep penampakan fisik yang sesuai dengan penetuan oilahraga secra umum debedakan dari berbagai permainan, beberapa batasanbatasan alur permasalahan. Contoh suartu permainan draft diantara teman teman yang menentukan konteks kelayakan antara suami dan istri dan konteks memancing antara ayah dan anak yang juga menjadi pertimbangan dari suatu ketetapan bermain yang dikenal dalam suatu pertandingan olagraga.. Bahkan bila perlu penampakan fisik dapat menentukan penanganan secara formal terorganisir dan disponsori menurut konteks seperti penanganan draft, penanganan pacuan kuda atau berbagai turnamen memancing, mereka secara legigitimiasi menjadi ketentuan dalam label olahraga.
Suatu pendekatan alternatif untuk menjawab pertanyaan yang disebutkan sebelumnya, bagaimanapun defenisi olahraga sebagai suatu ilusterasi permainan yang mendemonstrasikan penampakan fisik. Jika pendekatan selanjutnya yang dapat diterima, kemudian perbedaan tersebut akan memberikan jawaban diatas sesuai dengan tinjauan pendekastan suatu permainan sebagai suatu event yang unit dan olahraga sebagai suatu pola institusional. Seperti Weiss memberikan pemahaman yaitu:
Suatu permainan adalah suatu akurasi: sebuah laporan dalam suatu pola. Suatu pola, merupakan kaidah utama, bahkan bersifat kelembangaan yang nampak. Sebuah olahraga didefenisikan menurut kondisi yang menjadi partisipan suatu batasan sesuai dengan permainan yang memberikan batasan aturan dan kemampuan suatu olahraga yang ditampilkan (Weis, 1967: 82).




SUMBER

Olahraga Sebagai Suatu Permainan Institusional





Untuk perlakuan olahraga sebagai Instusionalisasi sebagai pertimbangan olahraga suatu entites abstrak. Contoh organisasi dari suatu tim sepak bola seperti yang dijelaskan aturan yang dapat dibahas tanpa referensi untuk anggota dari tim khusus dan hubungan keterkaitan antara anggota tim yang dapat menjadi karakteristik referensi untuk persenalitas yang unit atau untuk penentuan waktu yang khusus. Dalam perlakuan olahraga duatu permainan instusional yang dapat diterima sebagai suatu perbedaan, pola pola indikasi dari struktur budaya dan social yang dikombinasikan kedalam suatu kompositas tunggal elemen dari nilai yang mencakup nilai nilai, norma - norma, saksi, pengetahuan dan posisi social (aturan dan status). Suatu keterkaitan makna dari istilah instutisional yang memerlukan pemahaman gagasan olahraga sebagai pola institusioanl atau blueprint pedoamn organisasi dan penetapan sautu permainan dan dukungan olahraga.
Formulasi dari suatu penerapan aturan untuk sebuah permainan atau sebuah upaya mengenai kejadian khusus tidak hanya konsisten sebagai suatu pola konseptualisasi dalam hal ini. Institusioanalisasi dari suatu penerapan permainan yang mempunyai tradisi aplikasi dan definisi mengenai garis garis pedaoman untuk realisasi kedepan. Terlebih lagi, dalam permainan konkrit suatu kondisi yang sesuai dengan bentuk garis garis pedoman untuk masa yang akan dating. Terlebih lagi dalam memahami penerapan instiusional dalam pengertian sebuah olahraga baseball profesionall yang menjkafi permainan baseball berdasrkan pola institusioanal yang sama dan diantara istilah ini ada taraf institusioanalisasi daan secra empiris sesuai dengan taraf organisasi. Selanjutnya keten tuan empiris membentuk hal tersebut.
Agar situasi pengertian institusi dari olah raga terhadpa berbagai permainan. Diantara permaianan dan olah raga yang menjadi pertimbangan dlam berbagai formulasi dan terorganisir. Adapun non olah raga institusional dalam menentukan karakteristik yang sama terhadap berbagai penentuan olah raga (permainan catur dan pacuan kuda), seperti permainan minoritas dan berbgai kasus dalam permainan olah raga sesuai dengan tingkat permintaan mendemonstrasikan menurut kelayakan fisik.


2.1 Lingkup Organisasi
Aspek organisasi dari olahraga yang dibhas melalui suatu uraian singkat dalam istilah tim, hubungan sponsor dan pemerintah.
a. Team
Kompetisi untuk permainan biasanya dipilih secara spontan dan secara bentuk disesuaikan mengikuti ketentuan kontes. Dalam olhraga bagaimanapun persaingan kelompok secara umum dipilih dengan penanganan, suatu keberpihakan yang susai yang telah dikembangkan melalui stabilisasi organisasi social. Adapun person individual dari suatu organisasi dapt dikembangkan sesuai posisi social atas kelompok lainnya.
Adapun perbedaan kelayakan pada olahraga memperlihatkan suatu taraf dari aturan perbedaan yang ditemukan dalam permainan. Adapun auatu taraf dari aturan perbedaan yang ditemukan dlam permainan, Adapun permainan yanh sering mencakup beberaapa kontestant (seperti choker) contestant yang sering memberikan bentuk aktivitas identik dan memberikan pertimbangan beberapa bentuk aktivitas identik dan memberikan pertimbangan beberapa aturan yang sma sesuai status. Sebaliknya, dalam suatu olahraga jumlah partisipasi (basket ball) biasanya memberikan kombinasi beberapa kinerja aktivitas khusus dlam kelompok yang membedakan aturan aturan permainan. Terlebih lagi konteks spesial dan perbedaan aktivitas dapat di rangkin dalam beberapa ketentuan criteria seperti skill atau prestasi, yang juga mempunyai perbedaan status.
b. Hubungan sponsor
Adapun kelompok social permanen dikembangkan untuk tujuan kompetisi olahraga. Yang biasanya ditemukan dalam olahraga yang rill dari organisasi social yang dikembangkan oleh badan-badan social untuk tim pendukung. Badan sponsor ini mempunyai karakteristik ini secara langsung atau tidal langsun. Kelompok sponsor langsung termasuk sponsor berbagai liga permainan tim baseball, universitas yang mendukung tim santar perubahan tinggi dan urusan bisnis yang menjadi sponsor tim amateur. Organisasi sponsor tidak langsung termasuk sponsor barang olahraga, booster dan berbagai majalah olahraga.
c. Pemerintah
Sementara tipe permainan yang mempunyai norma-norma dan asosiasi sangsi berbagai ragam bentuk yang banyak dikembangkan sesuai kenyataan untuk mengembangkan *institusional formal atau lain dalam menentukan unsure unsure \budaya yang sering diterapkan aturan secara tertulis atau secara spontan dikembangkan untuk memberikan konteks berbagai modifikasi yang sederhana. Contoh, ada beberapa organisasi internbasional yang mendukung berbagai event (seperti komite olimpyade, federasi internasional bangsa bangsa, perserikatan senam internasional ) yang ada di amerika utara secara relatif merupakan organisasi besar yang mengalami perubahan menjadi amatur (asosiasi sekolah tinggi nasional), perserikatan atletik amatur), dan olahraga professional (seperti liga sepak bola nasional, liga hokki nasional).
2.2 Lingkup Teknologi
Dalam setiap olahraga, tercatat perlengkapan material, skill fisik dan badan ilmu pengetahuan yang memerlukan adanya penetapan persaingan yang memberikan perbaikan teknis pada tingkat persaingan. Sementara tipe permainan memerlukan adanya suatu pengetahuan yang masih minimun dan sering dikembangkan oleh skill fisik yang masih rendah dengan perlengkapan bahan olahraga yang sedikit, jenis olahraga yang tidak sesuai dengan bentuk bentuk permainan yang menjadi bentukan dalam membentuk suatu pengetahuan yang besar mengenai olahraga. Tingkat cakupan skill fisik ini memerlukan adanya perlengkapan material. Aspek teknis olahraga diklasifikasikan sebagai intrinsic dan ekstrinsik. Aspek teknologi intrinsic dari suatu olahraga terdiri atas aspek fisik dari skill, yang membetuhkan berbagai perlengkapan yang diperlukan dalam menetapkan suatu konteks perorangan. Contoh, teknologi intrinsic dari sepakbola termasuk a)perlengkapan (lapangan,bola,seragam) b) Pengembangan skill fisik yang diperlukan (berlari melempar, menendang, menahan dan menggundul serta c) pengetahuan (peranan,strategi,norma dll). Contoh unsur-unsur teknologi intrinsic termasuk sepakbola a) skill fisik yang harus dimiliki oleh pelatih, pimpinan pelatihan dan kru dasar, c) pengetahuan yang harus dituntut dari pelatih, tim fisik dan spectator.
a. Lingkup symbolik
Dimensi symbolik dari olahraga termasuk unsur tampilan, pemahaman dan ritual. Hizingga (1995) menyatakan bahwa pemain “….. mempromosikan formasi kelompok social yang cenderung menjadi lingkungan yang secret dan menekankan pada perbedaan dari pemahaman umum yang berbeda atau pemahaman lainnya”. Caillois (1961) mengeritik orientasi ini yang menyatakan keberatan bahwa “pemain cenderung untuk mengubah suatu pengertian misterius”. Ia selanjutnya menyatakan bahwa“ Bila hal itu dirahasiakan, pengemhangan suatu pengisian yang berfungsi saklemental dapat diyakini tidak memainkan peranan bahkan bersifat institusi.
Albeit secara abivalen, itu memungkinkan adanya suatu kesepakatan diantara yang telah menulis. Sebaliknya, pemahaman yang luas dari Huizinga memberikan arti “rahasia “ yang menjadi pemahaman lain, Collins memberikan indikasi bahwa suatu institusi tidak hanya memainkan peranan yang dapat diterima. Tipe pemahaman selanjutnya menyebutkan “pembahasan yang rahasia “ dalam suatu olahraga, untuk keterkaitan dengan banyak bentuk persaingan olahraga dari norma norma yang membedakan aturan perilaku tersebut. Contoh, suatu team sepak bola yang mengijinkan menguasai lapangan praktek atau suatu team yang memberikan batasan akan pentingnya permainan permainan yang harus dikuasai dari permainan yang harus dimainkan secara terpadu.
Suatu pembacaan yang dikembangkan dari Huizinga (1955) memainkan peranan yang menyimpulkan bahwa perlunya suatu pembahasan yang terbaik dalam menampilkan suatu permainan dan suatu ritual. Ini merujuk kepada suatu sample, yaitu “perbedaan dan tampilan tingkat validitas yang menekankan pemahaman” dan menyatakan bahwa bentuk permainan adalah“ suatu konteks yang terkadang memberikan representasi mengenai sesuatu,“penambahan bahwa persentase tampilan makna”. Unsur” yang dialamtkan”catatan yang dikemukakan oleh Huizinga yang memberikan karakteristik tertentu dari kebanyakan olahraga. Kemungkinan yang paling besar dalam pertandingan yang ekstrim yang dipertandingkan adalah bentuk bentuk permainan olahraga.
Veblen menulis. Hal itu perlu mendapat perhatian untuk instansi, didalam memberikan makna perilaku dan permasalahan nyata yang melihat muatan akses dari norma dan tata implementasi suatu imajinasi yang secara serius menanganinya. Beberapa tinjauan histories memberikan penentuan suatu elaborasi dalam penentuan tingkat perubahan yang membutuhkan adanya tingkat pemahaman eksplisit (Veblen,1934: 256).
Suatu tinjauan modern dan perhitungan analitik dari “tampilan” dan tanpa tampilan dalam olahraga yang dikemukakan oleh Stone (1955) yang menyajikan adanya suatu tinjauan yang sesuai dengan permainan yang ditunjukkan dalam melihat suatu komponen yang esensial dari olahraga. Hal tersebut memberikan suatu penilaian bahwa permainan dan tanpa permainan secara terpadu menunjukkan keseimbangan dalam olahraga, dan pertimbangan tersebut secara menyeluruh merupakan unsur spectacular dari olahraga dimana pada professional olahraga Amerika mengembangkannya dalam suatu permainan. Aturan yang diterapkan “termuat” dan terkait dalam berbagai permainan.
Point ini dibuat dalam beberapa cara lain. Spectacular yang dapat memprediksi dan mengembangkan permainan tertentu, suatu permainan yang tidak dapat diprediksi dan tidak dapat ditentukan. Tampilan spectacular adalah tampilan yang sesuai dengan kinerja. Untuk mengembangkan hal tersebut terlihat adanya bentuk sesuai dengan permainan spectacular yang mempunyai fungsi yang dapat dijual dari ketidakpastian permainan (Stonen,1955.hal 98).
Dalam beberapa perilaku yang berbeda para ahli sosiologi, erving Goffman (1961) telah menganalisis faktor faktor ketidakpastian dari suatu permainan dan tampilan permainan. Konsent dasar dari “kesenangan dalam bermain” ia menyatakan bahwa“ ke tidak pastian penanganan cukup memberikan peranan” terhadap keberhasilan permainan yang dikombaninasikan” tanpa tampilan pengenaan sanksi dengan penanganan problematik. Dengan makna tampilan Goffman memberikan arti bahwa“ Permainan dari pemain mempunyai peluang untuk memberikan tampilan atribut yang dapat dinilai. Dalam dunia sosial yang lebih luas, termasuk mengembangkan kekuatan, pengetahuan, intelegensi, penilaian kontrol tersendiri. Dengan demikian, pemahaman Stone tanpa memberikan tampilan signifikan secara spectacular dalam memahami pemahaman secara eksternal dari atribut non relevan terhadap respek kondisi permainan, sementara Goffman memperlihatkan tampilan permainan spectacular secara eksternal menentukan atribut yang relevan.
Konsep lainnya berkaitan dengan tampilan dan keterpaduan yang relevan untuk olahraga yang ritual. Menurut Leach (1964)”Catatan ritual aspek ini menjelaskan perilaku formal yang tidak langsung memberikan konsekuensi teknologi “ritual” yang membedakan dari spectacular nyata secara umum mempunyai unsure-unsur yang lebih besar bersifat dramatis yang lebih serius. Leace menyatakan bahwa “kegiatan ritual yaitu symbolik yang dinyatakan mengenai sesuatu yang memerlukan pemaknaan tujuan”. Adapun ritual tersebut menunjukan suatu ebutuhan yang lebih fair. Secara empiris, ritual dapat dibedakan dari spectacular nyata dan ritual yang menekankan pada suatu sikap yang terpadu terhadap penentuan terhadap arah spectacular. Contoh ritual pada olahraga yang dapat ditangani antara kapten olahraga sebelum bermain dan antara wasit setelah bermain, dan berbagai bentuk bentuk permainan yang banyak dilakukan dalam suatu permainan.
b. Lingkup pendidikan
Lingkup pendidikan berfokus pada aktivitas yang berkaitan dengan transmisi skill dan pengetahuan terpadu. Banyak orang yang tidak memainkan proses pembelajaran dalam mengembangkan suatu permainan dalam bentuk perilaku informal. Mereka belajar mengembangkan suatu permainan dalam bentuk perilaku informal. Mereka belajar mengembangkan skill dan pengetahuan yang berkaitan dengan permainan melalui instruksi sebab akibat atau pengamatan yang berkaitan dengan keterkaitan olahraga. Baik diantara teman atau asosiasi. Sebaliknya, dalam olahraga, skill dan pengetahuan mempunyai kemampuan dalam pengembangan partisipasi actual bagi pemain atau atlet yang sering diperoleh lewat berbagai permainan melalui instruksi formal.
Secara singkat, lingkup pendidikan dari olahraga yang institusional, memerlukan banyak permainan. Suatu alasan untuk situasi ini adalah kenyataan bahwa olahraga memerlukan adanya pengembangan skill fisik (seperti permainan yang sering dilakukan) dan pro efisiensi yang memerlukan dan yang lama dari praktek dan instruksi kualifikasi (sistimatika pelatihan). Akhirnya, akan merujuk keterkaitan instruksional personal dari program olahraga yang memiliki personal tambahan seperti manajer, para ahli fisik dan pelatih situasi yang tidak umum ditemukan dalam permainan.






SUMBER

Manfaat Berjalan Kaki

Manfaat Berjalan Kaki
Berjalan kaki adalah salah satu olahraga yang murah dan mudah dilakukan. Namun seringkali kita enggan untuk melakukannya. Selain bisa membakar kalori, masih banyak manfaat lain dari olahraga ini. Mau tahu apa saja? Berikut ini beberapa manfaat dari berjalan kaki jika kita lakukan dengan rutin.
Berat Badan Ideal
Ya, bila kita membiasakan berjalan kaki secara rutin, maka akan membakar sejumlah kalori dalam tubuh. Laju metabolisme tubuh meningkat selama kita melakukan aktivitas berjalan kaki. Tidak hanya menurunkan berat badan, tapi juga bisa membuat berat badan ideal untuk tetap stabil jika dilakukan secara rutin dalam jangka waktu lama.

Menyehatkan Jantung
Dengan berjalan kaki secara teratur dapat mengurangi risiko terserang penyakit jantung. Mengapa begitu? Karena Pada dasarnya otot jantung membutuhkan aliran darah yang cukup deras dan lancar. Dengan berjalan kaki dalam jangka waktu yang cukup membuat kinerja jantung terpacu. Baiknya aktivitas berjalan kaki dilakukan selama 30 menit setiap harinya us memompa darah tanpa henti sehingga otot jantung bisa cukup berdegup.
Mencegah Osteoporosis
Selama berjalankaki sebenarnya bukan hanya otot-otot tubuh yang menjadi kuat tetapi juga tulang. Dengan berjalan kaki selama 30 menit dapat mencegah terjadinya keropos tulang atau osteoporosis. Saat berjalan kaki, tubuh kita terkena sinar matahari pagi dan bergerak sehingga baik untuk metabolisme kalsium. Jadi tidak hanya mengkonsumsi vitamin D saja untuk mencegah terjadinya osteoporosis.
Mengurangi Stress
Berjalan kaki dipagi hari ternyata cukup efektif untuk mengurangi tingkat stress. Dengan berjalan kaki, tubuh akan menghasilkan hormon endorphin yang bisa membuat pikiran menjadi lebih rileks dan tenang. Bahkan berjalan kaki dapat menggantikan obat antidepresan.

Tips berjalan kaki:
- Carilah tempat yang tenang, sejuk dan nyaman untuk berjalan kaki. Hindari tempat yang banyak polusi seperti pinggir jalan raya.
- Lakukanlah di pagi hari karena udara masih bagus dan sejuk. Hiruplah udara segar dan bayangkan tubuh yang tegang menjadi rileks saat Anda menghembuskan nafas.
- Beristirahatlah jika Anda merasa kelelahan. Paling tidak setiap 15 menit.




SUMBER

Antropologi Olahraga

\


A. Latar belakang
Seorang filsuf China; Lao Chai, pernah berkata bahwa suatu perjalanan yang bermil-mil jauhnya dimulai dengan hanya satu langkah. Pembaca dari materi ini juga baru memulai suatu langkah ke dalam lapangan dari suatu bidang ilmu yang disebut dengan Antropologi. Benda apa yang disebut dengan Antropologi itu? Beberapa atau bahkan banyak orang mungkin sudah pernah mendengarnya. Beberapa orang mungkin mempunyai ide-ide tentang Antropologi yang didapat melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik.
Beberapa orang lagi bahkan mungkin sudah pernah membaca literatur-literatur atau tulisan-tulisan tentang Antropologi. Banyak orang berpikir bahwa para ahli Antropologi adalah ilmuwan yang hanya tertarik pada peninggalan-peninggalan masa lalu; Antroplogi bekerja menggali sisa-sisa kehidupan masa lalu untuk mendapatkan pecahan guci-guci tua, peralatan-peralatan dari batu dan kemudian mencoba memberi arti dari apa yang ditemukannya itu.
Pandangan yang lain mengasosiasikan Antropologi dengan teori Evolusi dan mengenyampingkan kerja dari Sang Pencipta dalam mempelajari kemunculan dan perkembangan mahluk manusia. Masyarakat yang mempunyai pandangan yang sangat keras terhadap penciptaan manusia dari sudut agama kemudian melindungi bahkan melarang anak-anak mereka dari Antroplogi dan doktrin-doktrinnya. Bahkan masih banyak orang awam yang berpikir kalau Antropologi itu bekerja atau meneliti orang-orang yang aneh dan eksotis yang tinggal di daerah-daerah yang jauh dimana mereka masih menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang bagi masyarakat umum adalah asing.
Semua pandangan tentang ilmu Antroplogi ini pada tingkat tertentu ada benarnya, tetapi seperti ada cerita tentang beberapa orang buta yang ingin mengetahui bagaimana bentuk seekor gajah dimana masing-masing orang hanya meraba bagian-bagian tertentu saja sehingga anggapan mereka tentang bentuk gajah itupun menjadi bermacam-macam, terjadi juga pada Antropologi. Pandangan yang berdasarkan informasi yang sepotong-sepotong ini mengakibatkan kekurang pahaman masyarakat awam tentang apa sebenarnya Antropologi itu.
Antropologi memang tertarik pada masa lampau. Mereka ingin tahu tentang asal-mula manusia dan perkembangannya, dan mereka juga mempelajari masyarakat-masyarakat yang masih sederhana (sering disebut dengan primitif). Tetapi sekarang Antropologi juga mempelajari tingkah-laku manusia di tempat-tempat umum seperti di restoran, rumah-sakit dan di tempat-tempat bisnis modern lainnya. Mereka juga tertarik dengan bentuk-bentuk pemerintahan atau negara modern yang ada sekarang ini sama tertariknya ketika mereka mempelajari bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana yang terjadi pada masa lampau atau masih terjadi pada masyarakat-masyarakat di daerah yang terpencil.
Oleh karena itu, hubungan antara Antropologi dan kebudayaan itu sendiri tidak dapat dipisah. Sebab, apa yang dicari oleh Antropologi merupakan hasil dari kebudayaan manusia. Kebudayaan tercipta karena individu manusia itu sendiri yang berusaha menciptakannya. Seperti kata orang, manusia itu tidak pernah puas dengan hal yang sudah ia capai. Oleh karena itu, hal itu pulalah yang menjadi cambuk untuk menciptakan hal-hal baru dalam kehidupannya. Itulah yang dinamakan kebudayaan.
Tetapi, perlu digarisbawahi bahwa Antropologi bukanlah pemulung yang memunguti artefak-artefak yang telah ditinggalkan manusia (sampah). Bukan. Namun, Antropologi merupakan jembatan yang akan menghubungkan suatu pola kehidupan generasi yang telah berlalu dengan generasi sekarang dan akan datang.

B. Batasan masalah
Dalam penulisan makalah ini penulis akan batasi masalah pembahasan ini agar tidak terjadi tumpang tindih tentang hal ini, batasan masalah ini adalah sebagai berikut, sejarah, defenisi antropologi dan olahraga, sosial dan kebudayaan, serta etika dan moral dalam berolahraga.

BAB II
PEMBAHASAN

Sebelum penulis membahas tentang antrpologi olahraga maka terlebih dahulu penulis akan menarik benang merah suatu makalah ini tentang sejarah antropologi agar tidak mengambang dan terlalu mengada-ada rentang pembahasan pembahasan lebih lanjut.
A. Sejarah
Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya. Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
- Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi.
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
- Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
- Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
- Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami,

B. Defenisi antropologi
Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata.
Objek dari antropologi adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa, kebudayaan dan prilakunya. Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri.
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Antropologi berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal. Defenisi Antropologi menurut beberapa ahli :
• William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
• David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
• Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Macam-Macam Jenis Cabang Disiplin Ilmu Anak Turunan Antropologi :
a) Antropologi Fisik
1. Paleoantrologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
2. Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengna mengamati ciri-ciri fisik.
b) Antropologi Budaya
1. Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mengenal tulisan.
2. Etnolinguistik antrologi adalah ilmu yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
3. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
4. Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.
Di samping itu ada pula cabang ilmu antropologi terapan dan antropologi spesialisasi. Antropology spesialisasi contohnya seperti antropologi politik, antropologi kesehatan, antropologi ekonomi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

C. Defenisi olahraga
Makna olahraga menurut ensiklopedia Indonesia adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan. Sedangkan dalam Webster’s New Collegiate Dictonary (1980) yaitu ikut serta dalam aktivitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan aktivitas khusus seperti berburu atau dalam olahraga pertandingan (athletic games di Amerika Serikat)
Menurut Cholik Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
Untuk penjelasan pengertian olahraga menurut Edward (1973) olahraga harus bergerak dari konsep bermain, games, dan sport. Ruang lingkup bermain mempunyai karakteristik antara lain; a. Terpisah dari rutinitas, b. Bebas, c. Tidak produktif, d. Menggunakan peraturan yang tidak baku. Ruang lingkup pada games mempunyai karakteristik; a. ada kompetisi, b. hasil ditentukan oleh keterampilan fisik, strategi, kesempatan. Sedangkan ruang lingkup sport; permainan yang dilembagakan.
Tujuan utama olahraga bukanlah pembangunan fisik saja melainkan juga pembangunan mental dan spiritual. Olahraga (Lama) ialah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan atas pilihan sendiri yang bermaksud menguatkan diri baik phisik maupun psychis tanpa mengharapkan suatu hasil materiil tetapi mengharapkan kenaikan prestasi. Olahraga (baru) ialah membentuk manusia Indonesia Pancasila yang fisik kuat-sehat berprestasi tinggi, yang memiliki kemampuan mental dan ketrampilan kerja yang kritis kreatif dan sejahtera. Jadi Olahraga ialah suatu usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada tiap manusia. Lebih tegas dikatakan bahwa olahraga untuk mempertahankan existensi kemanusiaan dan untuk melakukan cita-cita hidup bangsa. Olahraga merupakan pembentukan fisik dan mental

a) Hakikat Olahraga
Olahraga ada beberapa konsep yang perlu dikaji dan dipahami secara mendalam. Konsep ini bersifat abstrak yaitu ‘mental image’. Walau kita tahu bahwa konsep ini abstrak, tetapi didalam konsep ini ada makna tertentu, walau perbedaan makna pada setiap individu berbeda-beda tentang ini. Konsep dasar tentang keolahragaan beragam, seperti bermain (play), Pendidikan jasmani (Physical education), olahraga (Sport), rekreasi (recreation), tari (dance). Bermain (play) adalah fitrah manusia yang hakiki sebagai mahluk bermain (homo luden), bermain suatu kegiatan yang tidak berpretensi apa-apa, kecuali sebagai luapan ekspresi, pelampiasan ketegangan, atau peniruan peran. Dengan kata lain, aktivitas bermain dalam nuansa riang dan gembira. Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat belum tercemar. Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat menyenangkan dan gembira ini merupakan bentuk permainan yang belum tercemar.
Olahraga bersifat netral dan umum, tidak digunakan dalam pengertian olahraga kompetitif, karena pengertiannya bukan hanya sebagai himpunan aktivitas fisik yang resmi terorganisasi (formal) dan tidak resmi (informal).
Pendidikan jasmani pada dasarnya bersifat universal, berakar pada pandangan klasik tentang kesatuan erat antara “body and mind”, Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional.
Konsep pendidikan jasmani terfokus pada proses sosialisasi atau pembudayaan via aktifitas jasmani, permainan dan olahraga. Proses sosialisasi berarti pengalihan nilai-nilai budaya, perantaraan belajar merupakan pengalaman gerak yang bermakna dan memberi jaminan bagi partisipasi dan perkembangan seluruh aspek kepribadian peserta didik. Perubahan terjadi karena keterlibatan peserta didik sebagai aktor atau pelaku melalui pengalaman dan penghayatan secara langsung dalam pengalaman gerak sementara guru sebagai pendidik berperan sebagai “pengarah” agar kegiatan yang lebih bersifat pendeawsaan itu tidak meleset dari pencapaian tujuan.
D. Perspektif Antropologi Olahraga
Dalam memahami arti antropologi olahraga, pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara Pendidikan jasmani dan olahraga (sport) dengan sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari ORKES (Olahraga Kesehatan). Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.
Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.
Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat. Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
Dalam antropologi olahraga intinya adalah aktivitas atau hubungan satu kelompok dengan kelompok yang lain. Kita mengartikan antropologi sebagai ujung tombak berinteraksi yang bersifat universal yang kompetitif, meskipun berinteraksi tidak harus selalu bersifat ada pertemuan. Berinteraksi bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari berinteraksi dapat ditemukan di dalam keduanya.
Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari sosial maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.
Antroplogi olahraga , pendidikan jasmani dan olahraga melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan sosiologi dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan berinteraksi dengan kelompok yang lain, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. berinteraksi dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.
E. Pembangunan olahraga bagian integral dari pembangunan bangsa
Lagu Kebangsaan Republik Indonesia yang berjudul “Indonesia Raya”, yang dikarang oleh WR. Supratman, syairnya antara lain berbunyi: “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”. Sepenggal syair ini menunjukkan bahwa dalam membangun bangsa, termasuk membangun Sumber Daya Insani (SDI) menekankan pada pembangunan jiwa dan raga atau jasmani dan rohani.
Kondisi jasmani dan rohani yang kuat akan memberikan landasan yang kuat pula terhadap pengembangan Sumber Daya Insani. Bangsa yang kuat dan besar terutama ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Insaninya. Banyak faktor untuk membangun SDI yang kuat, dalam konteks ini olahraga memiliki peran yang cukup pentingDalam kenyataannya, olahraga telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan manusia. Persoalannya adalah bagaimana agar olahraga dapat dijadikan wahana dalam membangun bangsa yang sehat dan kuat jasmani dan rohani. Akan tetapi di sisi lain masih ditemui banyak kendala dalam pembangunan olahraga.
Pembangunan olahraga di Indonesia masih perlu peningkatan dan pengembangan lebih lanjut, karena di samping harus mengejar ketinggalan dengan negara-negara lain, Indonesia juga masih me¬miliki berbagai kendala dalam pembinaannya. Masalah yang dihadapi dunia olahraga Indonesia, yaitu:
1. Belum optimalnya kemauan politik (political will) pemerintah dalam menangani olahraga. Hal ini ditandai antara lain: lembaga yang menangani olahraga belum secara herarkhis-vertikal terpadu; kegiatan olahraga dikenai pajak; dana terbatas; dan lain-lain.
2. Sistem pembinaan belum terarah. Kurangnya keterpaduan dan kesinambungan penyusunan pembinaan pendidikan jasmani dan olahraga serta pelaksanaan operasionalnya mengenai kegiatan pemassalan, pembibitan, dan peningkatan prestasi sebagai suatu sistem yang saling kait-mengkait. Sebagai indikatornya antara lain: belum memiliki sistem rekruitmen calon atlet; pemilihan olahraga prioritas belum tepat; dan lain-lain.
3. Lemahnya kualitas Sumber Daya Insani olahraga. Rendahnya kualitas pelatih dan kurang optimalnya peran guru pendidikan jasmani di luar sekolah merupakan sebagian indikator yang menunjukkan rendahnya kualitas.
4. Belum optimalnya peran Lembaga Pendidikan Tinggi Olahraga (LPTO), seperti Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK); Fakultas/ Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK/JPOK), Program Studi-Program Studi yang menangani disiplin ilmu keolahragaan dalam Program Pascasarjana. Hal ini ditandai dengan masih rendahnya kualitas lulusan; banyak SDI yang tidak terlibat dalam kegiatan olahraga di luar kampus sesuai dengan potensinya, dan lain-lain.
5. Lemahnya peran Lembaga/Bidang Penelitian dan Pengem¬bangan Olahraga. Indikatornya adalah: perhatian terhadap lembaga tersebut rendah; data tentang keolahragaan (misalnya data: atlet, pelatih, kelembagaan) belum lengkap; dan lain-lain.
6. Terbatasnya sarana dan prasarana. Tidak seimbangnya antara pengguna dan fasilitas yang tersedia, bahkan fasilitas olahraga yang telah ada beralih fungsi, dan lain-lain.
7. Sulitnya pemanfaatan fasilitas olahraga. Karena terbatasnya fasilitas, maka berdampak pada sulitnya memanfaatkan fasilitas tersebut. Bahkan untuk kebutuhan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah pun masih jauh dari memadai. Untuk fasilitas tertentu, Pengguna harus mambayar.
8. Masih kaburnya pemahaman dan penerapan pendidikan jasmani dan olahraga. Terutama di sekolah, masih banyak dijumpai pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani yang berorientasi pada peningkatan prestasi olahraga. Padahal seharusnya pendidikan jasmani tersebut diarahkan pencapaian tujuan pendidikan. Pencapaian prestasi di sekolah dapat dilakukan pada kegiatan ekstrakurikuler.
Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa kondisi kesegaran jasmani guru-guru pendidikan jasmani rata-rata berkategori “kurang”*) (Furqon, 2003: 3). Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi kesegaran jasmani tersebut terutama karena sebagian besar guru pendidikan jasmani di sekolah dasar tidak melakukan aktivitas olahraga secara teratur. Bahkan juga ditemu¬kan faktor lain, yaitu dalam pelaksanaan mengajarnya pun jarang terlibat atau melibatkan diri dalam aktivitas fisik. Di sisi lain, kondisi kesegaran jasmani bagi anak usia 11–17 tahun juga berkategori “kurang” (Furqon dan Kunta, 2004: 2).
Melengkapi temuan tersebut, berdasarkan hasil tes pemanduan bakat dengan Metode Sport Search sebagian besar (> 70 %) potret keberbakatan anak Sala adalah olahraga yang bersifat individual atau perorangan dan sangat jarang anak yang memiliki bakat dalam olahraga beregu atau tim (Furqon dan Muhsin, 2000: 5). Kondisi semacam ini kemungkinan besar disebabkan, karena lemahnya kemampuan gerak dasar dan kemampuan koordinasi gerak anak. Lemahnya kemampuan gerak tersebut, kemungkinan disebabkan oleh: (1) spesialisasi pada cabang olahraga tertentu terlalu dini; (2) lemahnya pendidikan jasmani di sekolah dasar; (3) kegiatan anak di luar sekolah tidak memberikan peluang untuk bergerak; dan (4) lingkungan yang kurang konduksif, seperti terbatasnya tempat bermain, hilangnya kesempatan anak untuk berburu, berpetualang, dan lain-lain.
Dalam bidang olahraga kompetitif, yang menekankan pada pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya juga mengalami kemun¬duran. Salah satu indikatornya adalah sejak SEA Games 1995 di Thailand prestasi Indonesia merosot**). Padahal sejak Indonesia terlibat dalam SEA Games tahun 1978, Indonesia selalu ranking satu (Juara Umum).
Berdasarkan fenomena ini menunjukkan bahwa sistem pembangunan olahraga kurang ada keserasian dan kesinambungan baik secara horisontal maupun secara vertikal. Dengan kata lain, ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam sistem pembangunan olahraga kita. Oleh karena itu, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mengoptimalkan peran olahraga sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa? Dan bagaimana memberdayakan olahraga tersebut agar mampu mendukung pembangunan bangsa?

1) Kendala Dan Potensi
Sebagai bangsa yang tergolong dalam kelompok negara berkembang bahwa pertumbuhan olahraganya belum menggem¬bi¬rakan, karena penduduknya masih diliputi suasana meningkatkan pertumbuhan taraf hidup yang lebih baik. Sebagai akibatnya olah¬raga belum mendapat prioritas utama.
Tempat-tempat berolahraga di lingkungan lembaga pendi¬dikan, lingkungan pemukiman, dan lingkungan industri di kota-kota besar makin terbatas, bahkan banyak lapangan olahraga yang sudah ada berubah atau beralih fungsi, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk berolahraga. Demikian pula kurangnya tenaga keolahragaan profesional yang mengabdikan diri sepenuhnya pada perkembangan olahraga, seperti pembina, penggerak, dan pelatih, merupakan kendala pula dalam pembangunan olahraga.
Di samping kendala yang dihadapi, kita juga memiliki peluang untuk menggalang potensi yang ada.
Gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat telah memperlihatkan perkembangan yang menggembi¬rakan, terutama sejak dicanangkannya gerakan tersebut. Kondisi ini memiliki potensi yang baik sebagai dasar dalam pembangunan olah¬raga.
Dari segi jumlah penduduk yang cukup besar, pada dasarnya merupakan sumber untuk memperoleh bibit-bibit olahragawan yang berpotensi dalam berbagai cabang olahraga. Tentunya dalam pemanfaatan Sumber Daya Insani ini harus disesuaikan dengan karakteristik postur tubuh orang Indonesia. Cabang-cabang olahraga yang tidak atau kurang memerlukan postur tubuh yang tinggi, memiliki potensi untuk dibina dan dikembangkan, seperti bulutangkis, tinju, tenis meja, panahan, loncat indah, senam dan lain-lain. Tampaknya kita akan kesulitan untuk meraih prestasi tingkat internasional, misalnya dalam cabang bola basket, bola voli, lari 100 meter, dan lain-lain, karena kita kurang atau belum memiliki postur tubuh yang menguntungkan, walaupun unsur postur tubuh tidak selamanya menjadi jaminan dalam mencapai prestasi.
Dari segi geografis maupun tersedianya sarana alami yang berupa wilayah darat, perairan, dan udara Indonesia memungkin¬kan untuk pengembangan berbagai cabang olahraga.
Dari segi banyaknya olahraga tradisional di masyarakat merupa¬kan kekayaan budaya bangsa yang dapat dikembangkan, seperti olahraga beladiri, sepak takraw, olahraga air dan lain-lain.

2) Hakikat Berolahraga
a. Berolahraga Merupakan Bagian dan Kebutuhan Hidup
Salah satu karakteristik makhluk hidup di dunia ini, termasuk manusia adalah melakukan gerakan. Antara manusia dan aktivitas fisik merupakan dua hal yang sulit atau tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat bahwa sejak manusia pada jaman primitif hingga jaman moderen, aktivitas fisik atau gerak selalu melekat dalam kehidupan sehari-harinya. Berarti aktivitas fisik selalu dibutuhkan manusia.
Neilson (1978: 3) mengemukakan bahwa manusia berubah sangat sedikit selama 50.000 tahun yang berkaitan dengan organi¬sasi tentang struktur dan fungsi yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa perubahan utama bukan pada manusianya, melainkan pada kebutuhan dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan besar di dalam ling¬kungan alam dan lingkungan buatan manusia. Manusia berusaha memodifikasi lingkungannya dengan mencoba-coba, eksplorasi dan dengan eksploitasi.
Pada jaman primitif gerakan pada mulanya merupakan gejala emosional murni yang dilakukan manusia untuk kesenangan dan komunikasi dengan dewa. Selanjutnya, gerakan berkembang dari pelaksanaan gerak yang tidak terencana ke kondisi gerak yang hingar-bingar pada upacara seremonial dan komunikasi untuk kerja seni. Karena aktivitas gerak sangat penting baik untuk kelang¬sungan hidup maupun komunikasi dengan dewa, maka aktivitas fisik tersebut merupakan yang terpenting untuk eksistensi manusia. Oleh karena itu, mereka mulai menyusun struktur geraknya ke dalam bentuk-bentuk yang bermanfaat, tepat dan sadar. Semua peristiwa penting dalam siklus kehidupan orang primitif yang memiliki makna praktis dan religius disimbulkan dalam gerakan-gerakan tubuh yang terstruktur. Di seluruh periode evolusinya, aktivitas fisik sangat penting untuk kelangsungan hidup dan tetap penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimum.
Harrow (1977: 5) mengemukakan bahwa ada tujuh pola gerak yang sangat penting untuk eksistensi orang primitif yang merupakan dasar gerakan keterampilan. Aktivitas gerak ini adalah inheren dalam diri manusia, yakni lari, lompat/loncat, memanjat, mengangkat, membawa, menggantung, dan melempar.
Hingga kini aktivitas fisik atau gerak, juga tidak dapat dipi¬sah¬kan dari kehidupan manusia, karena gerak dipandang sebagai kunci untuk hidup dan untuk keberadaan dalam semua bidang kehidupan. Jika manusia melakukan gerakan yang memiliki tujuan tertentu, maka ia mengkoordinasikan aspek-aspek kognitif, psiko¬motor, dan afektif.
Secara internal, gerak manusia terjadi secara terus menerus, dan secara eksternal, gerak manusia dimodifikasikan oleh penga¬laman belajar, lingkungan yang mengitari, dan situasi yang ada. Oleh karena itu, manusia harus disiapkan untuk memahami fisiologis, psikologis dan sosiologis agar dapat mengenali dan secara efisien menggunakan komponen-komponen gerak secara keseluruhan. Dengan demikian, antara manusia dan aktivitas fisik tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya.

b. Olahraga tak Tergantikan Aktivitas Lain
Kemajuan ilmu dan teknologi telah memberikan berbagai perubahan perilaku dan pola hidup. Salah satu contoh praktis, adanya kemajuan dalam dunia transportasi; semula orang naik angkutan kereta kuda meningkat ke mobil, dari pesawat terbang meningkat ke pesawat jet yang mampu menjelajahi ruang angkasa. Secara umum hasil kemajuan ilmu dan teknologi telah banyak membuat hidup manusia lebih mudah dan ringan. Demikian juga dalam aktivitas kehidupan sehari hari sering dijumpai kebanyakan orang yang melakukan aktivitasnya serba mudah dan ringan, misalnya ke supermarket memilih naik mobil daripada berjalan kaki atau naik sepeda. Di supermarket pun ke sana ke mari melalui elevator (tangga berjalan), pergi ke kantor naik mobil bahkan parkirnya sangat dekat dengan pintu kantornya dan sebagainya.
Dari gambaran singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur aktivitas fisik tidak dominan sehingga telah membuat manusia lebih sedikit mempergunakan unsur fisiknya daripada unsur yang lain. Pendek kata, hasil perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi moderen secara tidak disadari menumbuhkan pola hidup inaktif (inactive life) atau sedentari (sedentary life), yakni kegiatan orang sehari-harinya tidak banyak memerlukan aktivitas fisik. Secara umum dapat dikatakan bahwa keadaan fisik menjadi pasif dan statis, artinya tidak segar baik jasmaniah maupun rohaniah. Kondisi ini antara lain sebagai akibat dari terus menerus menghadapi persoalan dan pekerjaan yang sama dan membosan¬kan, lagi pula tugas pekerjaannya terlalu banyak membuat orang duduk atau diam, bahkan karena kesibukannya sering kali tidak mempunyai waktu atau kesempatan untuk melakukan aktivitas jasmani secara teratur.
Uraian tersebut menggambarkan bahwa hampir semua akti¬vitas manusia dapat digantikan dengan peralatan modern yang dapat mempermudah seseorang untuk melakukannya dengan efektif dan efisien. Namun, secara tidak disadari ada salah satu aktivitas jika diganti dengan peralatan atau sarana modern malah berdampak negatif, yaitu jika seseorang tidak berolahraga. Artinya aktivitas gerak digantikan atau dilakukan oleh peralatan atau sarana lain. Oleh karena itu, khusus untuk aktivitas jasmani atau olahraga harus dilakukan oleh setiap orang (dilakukan sendiri) dan tidak dapat digantikan dengan aktivitas apapun dan oleh siapapun.

c. Berolahraga Mendorong Pola Hidup Aktif
Suatu aktivitas atau pekerjaan rutin yang kurang mendapat¬kan gerak, bila tidak diimbangi dengan aktivitas yang dapat meng¬gerakkan otot-otot atau organ-organ tubuh, biasanya akan mudah terkena gangguan kesehatan. Dalam kenyataannya pola hidup sedentari (pola hidup tanpa aktivitas fisik) telah membawa kemunduran tingkat kesehatan dan kesegaran jasmani. Kondisi seperti ini memiliki faktor resiko yang lebih besar terhadap penyakit tertentu.
Dampak pola hidup sedentari yang menjadi masalah kese¬hatan adalah resiko penyakit jantung yang merupakan salah satu penyebab kematian di Amerika dewasa ini, bahkan lebih dari separoh disebabkan karena penyakit-penyakit kardiovaskuler, seperti serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan sejenisnya (Fox, Kirby, dan Fox, 1987: 5). Selanjutnya mereka juga mengatakan bahwa masalah kesehatan umum lainnya sebagai akibat kurang gerak adalah kegemukan (obesity). Ternyata timbulnya penyakit kardiovaskuler secara statistik ada kaitannya dengan faktor kegemukan.
Oleh karena itu salah satu upaya dalam mengatasi masalah kesehatan tersebut adalah dengan berlatih olahraga secara teratur, karena dengan latihan olahraga yang teratur dapat mengurangi problem-problem kegemukan dan meningkatkan kemampuan jantung yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesegaran jasmaninya.
Manusia makin menyadari bahwa olahraga tak dapat dipisah¬kan dari kehidupan manusia. Apalagi dengan majunya ilmu dan teknologi, olahraga makin dibutuhkan manusia untuk memelihara keseimbangan hidup.
Perkembangan dan persaingan pembangunan olahraga antar negara makin ketat dan keras, karena masing-masing negara sekarang ini makin menyadari akan pentingnya pembangunan olahraga bagi bangsanya, apalagi dalam era globalisasi sekarang ini.
Salah satu wahana dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Insani adalah melalui pembangunan olahraga. Olahraga telah terbukti keampuhannya dalam turut serta membentuk manusia yang berkualitas.

d. Berolahraga sebagai Perwujudan Rasa Syukur
Dengan memperhatikan pentingnya dan dampak berolahraga, serta sebaliknya dengan memperhatikan resiko bagi yang tidak berolahraga, maka bagi mereka yang memiliki pola hidup sedentari (artinya, bagi mereka yang tidak memanfaatkan anugerah “Nikmat” dari Yang Maha Kuasa dalam wujud tersedianya komponen-komponen produksi energi untuk “gerak”) dapat dikatakan termasuk dalam golongan orang-orang yang kurang atau tidak bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.
Sebagai ilustrasi sebagaimana yang digambarkan oleh Starnes (1994: 27) yang menjelaskan bahwa proses tranformasi energi yang terjadi di dalam mitrokondria (organ sub seluler, tempat di mana energi ATP diproduksi) adalah suatu proses yang amat efisien. Kebutuhan sel dan jaringan akan ATP sangatlah tinggi, di mana volume ATP yang diperlukan selama 24 jam untuk orang dewasa dengan berat badan 68 kilogram kurang lebih 100.000 mmol ATP. Melalui proses “fosforilasi oksidatif” di dalam mitokondria, produk hidrolisis ATP (yaitu: ADP + Pi + E) dengan segera di “daur ulang” untuk membentuk kembali ATP.
Sangkot dalam kompas (1994: 11) menyatakan bahwa untuk kebutuhan seluruh tubuh, setiap hari kita membutuhkan 50-70 kg ATP, sedangkan untuk jantung saja 2-3 kg ATP. Harga ATP per kg saat ini 1.500 dollar AS, jadi setiaphari ATP yang diproduksi mitokon¬dria mencapai nilai hampir 100.000 dola AS. Luar Biasa, di dalam tubuh kita ternyata terdapat suatu pabrik kimia dan biologi yang amat efisien.
Jika tidak terjadi proses “daur ulang” maka dibutuhkan konsumsi ATP harian + 50 kilogram sewaktu istirahat. Kita ketahui bahwa harga ATP per kg. pada tahun 1994 adalah US $ 1.500. Jadi setiap hari ATP yang diproduksi oleh mitokondria yang terdapat di dalam sel-sel tubuh mencapai nilai US $ 75.000. Seandainya kurs dolar Amerika hari ini Rp. 10.000,- per US dolar, maka tubuh kita dalam kondisi istirahat, membutuhkan dana sebesar 750 juta rupiah per hari. Hitung berapa umur kita sekarang (misalnya 54 tahun), artinya 54 x 360 hari = 19.440 hari. Dengan demikian Rp. 750.000.000,- x 19.440 =Rp. 145.800.000.000,- (148.8 trilyun). Ini dalam kondisi istirahat, apalagi dalam keadaan beraktivitas (Subhanallah, Allah Maha Pemurah dan Penyayang).
Jika malas berolahraga, maka fungsi tubuh tidak dapat meme¬lihara nikmat Tuhan ini. Dengan berolahraga, proses sistem tubuh tersebut, terutama yang berkaitan dengan produksi sistem energi, akan berfungsi secara efektif dan efisien, demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, berolahraga secara teratur berarti merupakan perwujudan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dalam arti, kita senantiasa berusaha dan memposisikan diri secara proporsional dan benar.

F. Sistem Pembangunan Dan Pembinaan Olahraga
Sistem adalah suatu keseluruhan atau keutuhan yang kom¬pleks atau terorganisasi; suatu himpunan atau gabungan bagian-bagian yang membentuk keutuhan yang kompleks atau terpadu. Sistem merupakan seperangkat elemen-elemen yang saling berhubungan .
Pembangunan olahraga pada dasarnya merupakan suatu pelaksanaan sistem. Sebagai indikator adalah terwujudnya prestasi olahraga. Prestasi olahraga merupakan perpaduan dari berbagai aspek usaha dan kegiatan yang dicapai melalui sistem pembangunan. Tingkat keberhasilan pembangunan olahraga ini sangat tergantung pada keefektifan kerja sistem tersebut. Makin efektif kerja sistem, maka akan makin baik kualitas yang dihasilkan, demikian juga sebaliknya.
Pembinaan dan pengembangan pada dasarnya adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing dan mengembangankan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras, dalam rangka memberikan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat, kecenderungan/keinginan serta kemampuan sebagai bekal untuk selanjutnya atas prakarsa sendiri menambah meningkatkan dan mengembangkan dirinya, sesama maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan manusia yang optimal dan pribadi yang mandiri (Abdul Gafur, 1983:46)
Mengkaji sistem pembinaan olahraga di Indonesia pada hakikat¬nya adalah mengkaji upaya pembinaan Sumber Daya Insani Indonesia. Dengan kata lain, upaya pembinaan ini tidak dapat dipisahkan dari upaya-upaya pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Harre, Ed. (1982: 21) mengemukakan bahwa pembinaan olahraga yang dilakukan secara sistematik, tekun dan berkelan¬jutan, diharapkan akan dapat mencapai prestasi yang bermakna. Proses pembinaan memerlukan waktu yang lama, yakni mulai dari masa kanak-kanak atau usia dini hingga anak mencapai tingkat efisiensi kompetisi yang tertinggi. Pembinaan dimulai dari program umum mengenai latihan dasar mengarah pada pengembangan efisiensi olahraga secara komprehensif dan kemudian berlatih yang dispesialisasikan pada cabang olahraga tertentu.
a. Olahraga kompetitif
Olahraga kompetitif yang dimaksud adalah berbagai kegiatan yang diarahkan untuk mencapai prestasi olahraga yang setinggi-tingginya. Olahraga prestasi biasanya digunakan sebagai alat perjuangan bangsa. Banyak negara yang memanfaatkan berbagai arena olahraga, seperti Olympic Games, atau Regional Games sebagai forum propaganda keunggulan bangsa dan memperlihatkan pembangunan bangsa di negaranya.
Berhasilnya Indonesia meraih satu medali Perak melalui olahraga panahan pada Olympic Games di Seoul 1988 dan beberapa medali emas, perak dan perunggu melalui cabang olahraga bulutangkis dan angkat besi ternyata mampu menunjukkan kepada dunia Internasional melalui prestasi olahraga. Peristiwa menarik yang lain adalah pada Olympic Games 1956 di Melbourne, Aus¬tralia, tim sepakbola Indonesia mampu menahan tim sepakbola Rusia. Hanya setelah perpanjangan waktu, tim Indonesia menga¬lami kekalahan. Dalam Olympic Games ini Rusia akhirnya sebagai juara. Bagi negara-negara yang memikirkan kesejahteraan rakyat¬nya jauh ke depan, maka akan menempatkan olahraga pada urutan prioritas yang penting. Sejak kemerosatan prestasi olahraga Amerika dan Australia di arena Olympic Games, konggres dan parlemennya turut membahas bahkan berusaha mengatur pembinaan olahraga di negaranya masing-masing melalui rancangan undang-undang olahraga.
Penekanan pada peningkatan prestasi tidak hanya sekedar melakukan alih ketarampilan dari pelatih kepada atlet, melainkan merupakan upaya membina manusia seutuhnya.
Sistem pembangunan olahraga yang digunakan di Indonesia adalah sistem piramida, yang meliputi tiga tahap, yaitu (1) pemassalan; (2) pembibitan; dan (3) peningkatan prestasi. Apabila model perencanaan ini dikaitkan dengan teori piramida yang terdiri dari (1) pemassalan; (2) pembibitan; dan (3) peningkatan prestasi,

1. Pemassalan Olahraga
Pemassalan adalah mempolakan keterampilan dan kesegaran jasmani secara multilateral dan landasan spesialisasi. Pemassalan olahraga bertujuan untuk mendorong dan menggerakkan masyarakat agar lebih memahami dan menghayati langsung hakikat dan manfaat olahraga sebagai kebutuhan hidup, khususnya jenis olahraga yang bersifat mudah, murah, menarik, bermanfaat dan massal. Kaitannya dengan olahraga prestasi; tujuan pemassalan adalah melibatkan atlet sebanyak-banyaknya sebagai bagian dari upaya peningkatan prestasi olahraga.
Pemassalan olahraga merupakan dasar dari teori piramida dan sekaligus merupakan landasan dalam proses pembibitan dan pemanduan bakat atlet.
Pemassalan olahraga berfungsi untuk menumbuhkan kesehatan dan kesegaran jasmani manusia Indonesia dalam rangka membangun manusia yang berkualitas dengan menjadikan olahraga sebagai bagian dari pola hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dalam pembangunan olahraga perlu selalu meningkatkan dan memperluas pemassalan di kalangan bangsa Indonesia dalam upaya membangun kesehatan dan kesegaran jasmani, mental dan rokhani masyarakat serta membentuk watak dan kepribadian, displin dan sportivitas yang tinggi, yang merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia. Pemassalan dapat pula berfungsi sebagai wahana dalam penelusuran bibit-bibit untuk membentuk atlet berprestasi.
Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyara¬kat merupakan bentuk upaya dalam melakukan pemassalan olahraga. Dalam olahraga prestasi, pemassalan seharusnya dimulai pada usia dini.
Bila dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, pemassalan sangat baik jika dimulai sejak masa kanak-kanak, terutama pada akhir masa kanak-kanak (6-12 tahun). Pada masa ini merupakan tahap perkembangan keterampilan gerak dasar.


2. Pembibitan Atlet
Pembibitan atlet adalah upaya mencari dan menemukan indi¬vidu-individu yang memiliki potensi untuk mencapai prestasi olah¬raga di kemudian hari, sebagai langkah atau tahap lanjutan dari pemassalan olahraga.
Pembibitan yang dimaksud adalah menyemaikan bibit, bukan mencari bibit. Ibaratnya seorang petani yang akan menanam padi, ia tidak membawa cangkul mencari bibit ke hutan, tetapi melaku¬kan penyemaian bibit atau membuat bibit dengan cara tertentu, misalnya dengan memetak sebidang tanah sebagai tempat pem¬buatan bibit yang akan ditanam.
Pembibian dapat dilakukan dengan melaksanakan identifikasi bakat (Talent Identification), kemudian dilanjutkan dengan tahap pengembangan bakat (Talent Development). Dengan cara demi¬kian, maka proses pembibitan diharapkan akan lebih baik.
Ditinjau dari sudut pertumbuhan dan perkembangan gerak anak, merupakan kelanjutan dari akhir masa kanak-kanak, yaitu masa adolesensi.
Pelaksanaan pembibitan atlet ini menjadi tanggung jawab pengelola olahraga pada tingkat eksekutif-taktik dan sekaligus bertanggung jawab pada pembinaan di tingkat di bawahnya, yaitu pada tahap pemassalan olahraga. Di sini disusun program yang mampu memunculkan bibit-bibit, baik di tingkat kotamadya/kabupaten maupun di tingkat propinsi. Adanya kejuaraan-kejuaraan yang teratur merupakan salah satu cara untuk merangsang dan memacu munculnya atlet-atlet agar berlatih lebih giat dalam upaya meningkatkan prestasinya.
3. Peningkatan Prestasi
Prestasi olahraga merupakan puncak penampilan atlet yang dicapai dalam suatu pertandingan atau perlombaan, setelah melalui berbagai macam latihan maupun uji coba. Pertandingan/per¬lom¬baan tersebut dilakukan secara periodik dan dalam waktu tertentu.
Pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya merupakan pun¬cak dari segala proses pembinaan, baik melalui pemassalan mau¬pun pembibitan.
Dari hasil proses pembibitan akan dipilih atlet yang makin menampakkan prestasi olahraga yang dibina. Di sini peran penge¬lola olahraga tingkat politik-strategik bertanggung jawab membina atlet-etlet ini yang memiliki kualitas prestasi tingkat nasional.
Para pengelola olahraga tingkat politik-strategik pada dasar¬nya bertanggung jawab terhadap sistem pembangunan olahraga secara keseluruhan.
Oleh karena itu, pengorganisasian program pembinaan jangka panjang dapat dikemukakan bahwa (1) masa kanak-kanak berisi program latihan pemula (junior awal) yang merupakan usia mulai berolahraga dalam tahap pemassalan; (2) masa adolesensi berisi program latihan junior lanjut yang merupakan usia spesialisasi dalam tahap pembibitan; dan (3) masa pasca adolesensi berisi program latihan senior yang merupakan usia pencapaian prestasi puncak dalam tahap pembinaan prestasi.

b. Olahraga Non Kompetitif
Pembangunan olahraga termasuk suatu usaha untuk membentuk manusia dalam totalitasnya, baik jasmaniah maupun rokhaniah, sehingga melalui olahraga dapat memberikan sumbangan dharma baktinya bagi pembangunan bangsa.
Suatu negara yang ingin membangun bangsa yang sehat, kuat dan segar, maka perlu menyusun dan melaksanakan suatu sistem pembangunan olahraga secara menyeluruh yang melibatkan seluruh masyarakat Indonesia. Pembangunan bangsa tidak akan lengkap atau sempurna tanpa pembangunan olahraga, karena aktivitas gerak manusia merupakan modal dasar aktivitas manusia dalam pembangunan.
Oleh karena pembangunan bangsa dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia, maka pembangunan olahraga dilaksanakan untuk mencapai keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara pertumbuhan fisik-biologis dan pertumbuhan mental spiritual, antara kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.
Adapun pembangunan olahraga yang bersifat non kompetitif dapat diarahkan dalam rangka upaya-upaya sebagai berikut:
1. Pendidikan Bangsa
Olahraga dapat mengembangkan dan membangun kepribadian, watak, budi pekerti luhur dan moral tinggi serta inisatif. Karena penyelenggaraan pembinaan olahraga bagi individu dan masyarakat ini, mengandung pendidikan yang positif.

2. Persatuan dan Kesatuan Nasional.
Olahraga dapat menghilangkan rasa kedaerahan dan kesukuan serta mempertebal rasa persatuan dan kesatuan Nasional. Hal ini dapat terlihat pada pertandingan-pertandingan atau kejuaraan-kejuaraan olahraga seperti, Pekan Olahraga Nasional (PON), pertandingan-pertandingan antar negara, dan lain-lain.

3. Pertahanan dan Ketahanan Nasional.
Dengan pembinaan olahraga bagi individu dan masyarakat, khususnya bagi generasi muda, antara lain meliputi pengarahan, bimbingan dan pengawasan intensif serta mengikutsertakan manusia secara aktif dalam penyelenggaraan, akan merupakan proses pendewasaan dan pengembangan kepemimpinan. Manusia yang berkepribadian tangguh, sehat jasmani dan rokhani merupakan modal penting bagi pertahanan dan ketahanan Nasional.

4. Rekreasi.
Dalam kehidupan moderen dengan kemajuan ilmu dan teknologi mutakhir, gerak manusia berkurang, maka untuk memelihara keseimbangan hidup manusia, kegiatan olahraga yang bersifat rekreatif sangat dibutuhkan.

G. Memberdayakan Potensi Bangsa Dalam Upaya Pembangunan Olahraga
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom dinyatakan bahwa kewenangan pemerintah pusat dalam bidang olahraga adalah sebagai berikut:
1) Pemberian dukungan untuk pembangunan sarana dan prasarana olahraga;
2) Penetapan pedoman pemberdayaan masyarakat olahraga; dan
3) Penetapan kebijakan dalam penentuan kegiatan-kegiatan olahraga nasional/internasional.
Untuk itu, berdasarkan wilayah atau daerah, selebihnya menjadi kewenangan daerah (terutama kota/kabupaten). Implikasinya adalah pemerintah daerah (propinsi/kota/kabupaten) memiliki keleluasaan dalam menentukan kebijakan dalam pembangunan olahraga di wilayah/daerahnya sesuai dengan kewenangannya, tanpa mengabaikan kebijakan pembangunan olahraga secara nasional.
Agar dalam merumuskan kebijakan pembangunan olahraga dapat dilakukan dengan baik, maka perlu memperhatikan kondisi dan potensi daerah yang ada. Khususnya dalam pembinaan olahraga prestasi harus dilakukan kajian dengan cermat.
Setelah kebijakan pembangunan olahraga dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah menggali dan menggalang potensi di daerah/masyarakat agar pembinaan olahraga tersebut secara operasional dapat dilakukan dengan baik.
Pembangunan olahraga bukan hanya tanggung jawab insan-insan olahraga, tetapi juga merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Pembangunan olahraga bukan hanya tanggung jawab pelatih dan atlet, melainkan tanggung jawab bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan kaitannya dengan pembangunan olahraga di Indonesia, yaitu (1) olahraga dijadikan gerakan nasional (national movement); (2) perlunya undang-undang keolahragaan; dan (3) perlunya sistem perencanaan program yang berkesinambungan dan terpadu.

a. Olahraga Dijadikan Gerakan Nasional (National Movement)
Kondisi pembinaan dewasa ini tampaknya masih belum menyentuh sampai lapisan bawah, yaitu kurang mengakar. Oleh karena itu perlu adanya upaya-upaya pembenahan.
Tak ada salahnya bila kita mengkaji dari pengalaman bidang lain yang telah berhasil di negara kita, yaitu keberhasilan gerakan nasional Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan mulai tahun tujuh puluhan. Kalau kita perhatikan gerakan KB waktu itu, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Berkat komitmen dan usaha yang keras, maka KB sekarang ini bukan hanya disadari pentingnya bagi pembinaan keluarga, melainkan menjadi kebutuhan individu dan keluarga di masyrarakat. Bahkan sekarang ini di tingkat RW telah ada sebuah lembaga, yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Belajar dari pengalaman gerakan nasional KB, tampaknya tidaklah berlebihan apabila pembangunan olahraga di Indonesia dijadikan sebagai gerakan nasional yang benar-benar mengakar sampai ke lapisan bawah. Dalam hal ini upaya memasyarakatkan olahraga dan menngolahragakan masyarakat dilakukan dengan membentuk wadah pembinaan atau organisasi sampai tingkat Kecamatan (misalnya, KONI tingkat Kecamatan).
Sebagai pertimbangan mengenai perlunya KONI tingkat kecamatan adalah karena ada beberapa potensi yang dapat dikem¬bangkan dan dilibatkan. Hampir di setiap kecamatan memiliki SD, SMTP dan/atau SMTA. Kondisi ini memungkinkan untuk membentuk suatu wadah pembinaan olahraga, minimal membentuk klub olahraga. Bersama-sama dengan tokoh lain, guru-guru pendidikan jasmani yang ada dapat dilibatkan dan difungsikan sebagai pelatih, sedangkan para siswa dapat dilibatkan sebagai atlet.
Dalam kenyataannya bahwa munculnya bibit-bibit unggul yang selama ini terjadi ditemukan di kampung-kampung yang ter¬bukti telah menghasilkan atlet-atlet tangguh di cabangnya masing-masing, misalnya Icuk Sugiarto, Joko Supriyanto, Sumardi, Yayuk Basuki dan lain-lain. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan dalam memayungi dan mewadahi munculnya bibit-bibit melalui lembaga atau organisasi olahraga, setidak-tidaknya di tingkat kecamatan.
Organisasi/lembaga olahraga di tingkat kecamatan ini teru¬tama berupaya menumbuhkan dan mengelola klub-klub olahraga yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Hal ini didasarkan bahwa keberadaan klub-klub olahraga di Indonesia telah muncul beberapa puluh tahun yang lalu.
Klub olahraga ini bermunculan di berbagai tempat. Hampir semua cabang olahraga menyandarkan pembinaannya bersumber dari aktivitas hasil klub sebagai landasan awal. Dalam kenyataan¬nya, masyarakat olahraga membutuhkan wadah ini sebagai tempat untuk berlatih dan membina atlet. Namun penanganan yang tepat agar klub tersebut dapat hidup dalam suasana yang kondusif masih belum optimal.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa populasi anak usia SD dan SMTP cukup besar jumlahnya. Oleh karena itu, keberadaan klub-klub olahraga sangat strategis sebagai upaya menampung minat yang berada di lingkungan mereka. Dan klub ini tidak akan kekurangan peserta. Perlunya wadah dan lembaga olahraga tingkat kecamatan ini, tampaknya sangat memungkinkan untuk ditangani, terutama dalam upaya pemassalan dan pembibitan.

b. Perlunya Undang-Undang Keolahragaan
Kebutuhan akan adanya undang-undang tentang keolahragaan dirasakan sangat mendesak. Hal ini disebabkan karena pembinaan ataupun pembangunan olahraga pada dasarnya merupakan suatu sistem. Oleh karena sistem melibatkan berbagai unsur yang bersifat koordinatif dan terpadu, maka diperlukan adanya pengaturan.
Ada beberapa pertimbangan utama mengenai perlunya undang-undang keolahragaan, yaitu:
1. Bahwa pembinaan dan pembangunan olahraga merupakan bagian penting dari pembangunan manusia seutuhnya. Dalam kenyataannya penanganan pembinaan olahraga di Indonesia belum mendapat penanganan secara proporsional.
2. Berbagai masalah yang selama ini muncul, misalnya pemba¬ngu¬nan sarana dan prasarana di lingkungan pendidikan, masya¬rakat maupun lingkungan industri akan sangat efektif apabila diatur dalam undang-undang.
3. Pembinaan olahraga, baik melalui pemassalan, pembibitan, mau¬pun peningkatan presitasi, makin lama mengalami perkem¬bangan yang makin padat dan memerlukan pengelolaan yang efektif dan efisien. Di samping itu, kewenangan dalam pengelolaannya juga memerlukan peraturan yang jelas.
4. Secara umum bahwa perkembangan olahraga bersifat universal tidak dapat lepas dari perkembangan olahraga internasional. Indonesia sebagai salah satu bangsa yang menyadari akan pentingnya olahraga bagi kehidupan bangsa, maka perlu adanya pengaturan untuk menjamin terlaksananya pembangunan olahraga yang didasarkan pada ketentuan dan peraturan yang berupa legalitas hukum atau undang-undang.
5. Hampir semua lembaga maupun individu merasa berhak, berwenang dan bebas mengurus olahraga di Indonesia, sehingga sering terjadi tumpang tindih dan sering kali terjadi penghamburan dana yang sasarannya tergantung pada si pemberi dana.
Pentingnya undang-undang olahraga ini telah ditunjukkan tingkat keefektivan dan keefisienannya oleh negara-negara maju, seperti Amerika dan Australia.

c. Perlunya Sistem Perencanaan dan Pelaksanaan Program Yang
Berkesinambungan dan Terpadu Idealnya pembangunan olahraga di Indonesia dikelola oleh sebuah departemen yang memiliki struktur organisasi sampai ke tingkat bawah. Selama ini pembangunan olahraga ditangani oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Departemen Pendidikan Nasional, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Badan Pembina Olahraga Profesional Indonesia (BAPOPI).
Persoalannya adalah bagaimana program dari masing-masing lembaga tersebut dapat dijalankan dengan baik, dan tidak terjadi tumpang tindih.
Keefektivan suatu sistem pembangunan olahraga sangat tergantung pada sistem perencanaan. Dalam arti bahwa perencanaan suatu sistem merupakan suatu proses mempersiapkan hal-hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, perencanaan sistem pembangunan olahraga yang matang sangat diperlukan.
Perencanaan pembangunan olahraga seharusnya dipandang sebagai suatu alat yang dapat membantu para pengelola pembangunan untuk menjadi lebih berdaya guna dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Perencanaan dapat membantu pencapaian suatu target atau sasaran secara lebih ekonomis, tepat waktu dan memberi peluang untuk lebih mudah dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, perencanaan program yang sistematis dan sistemik, akan menjadikan program tersebut runtut, terpadu dan berkesinambungan.


H. Etika Dan Moral Dalam Olahraga
a) Hakikat Etika
Istilah etika dan moral secara etimologis, kata ethics berasal dari kata Yunani, ethike yang berarti ilmu tentang moral atau karakter. Studi tentang etika itu secara khas sehubungan dengan prinsip kewajiban manusia atau studi tentang semua kualitas mental dan moral yang membedakan seseorang atau suku bangsa. Moral berasal dari kata Latin, mos dan dimaksudkan sebagai adat istiadat atau tata krama. (Rusli Lutan) Etika tidak mempunyai pretensi untuk secara langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik. Etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas, dimana yang dihasilkannya secara langsung bukan kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis. (Franz Magnis Suseno,1989). Lebih lanjut dikatakan bahwa etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Untuk memahami etika, maka kita harus memahami moral. Selanjutnya Suseno mengatakan bahwa Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggung jawabab dan mau menyingkapkankan ke rancuan. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral begitu saja melainkan menuntut agar pendapat-pendapat moral yang dikemukakan di pertanggung jawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral. Dalam etika mengembangkan diri,
Orang hanya dapat menjadi manusia utuh kalau semua nilai atas jasmani tidak asing baginya, yaitu nilai-nilai kebenaran dan pengetahuan, kesosialan, tanggung jawab moral, estetis dan religius. Suatu usaha sangat berharga untuk menyusun nilai-nilai dan menjelaskan makna bagi manusia dilakukan oleh Max Scheler dikemukan sebagai berikut : Mengembangkan diri, Melepaskan diri, menerima diri Freeman menyebutkan bahwa etika terkait dengan moral dan tingkah laku, menjelaskan aturan yang tepat tentang sikap. Etika merupakan pelajaran dari tingkah laku ideal dan pengetahuan antara yang baik dan buruk. Etika juga menggambarkan tindakan yang benar atau salah dan apa yang harus orang lakukan atau tidak.
Etika penting karena merupakan kesepakatan pada kebiasan manusia, bagaimana modelnya, bagaimana ia menunjukkan dirinya sendiri, dengan segala sisi baik dan buruk. Scott Kretchmar mengemukakan etika mendasari tentang cara melihat dan mempromosikan kehidupan yang baik, tentang mendapatkannya, merayakannya dan menjaganya. Etika terkait dengan nilai-nilai pemeliharaan seperti kebenaran, pengetahuan, kesempurnaan, persahabatan dan banyak nilai-nilai lainnya. Etika juga mengenai rasa belas kasih dan simpati, tentang memastikan kehidupan baik berbagi dengan lainnya, etika terkait dengan kepedulian terhadap yang lain, terutama yang tidak punya kedudukan atau kekuatan yang diperlukan untuk melindungi diri mereka sendiri atau jalan mereka.

b) Hakikat Moral
Istilah moral dikaitkan dengan motif, maksud dan tujuan berbuat. Moral berkaitan dengan niat. Sedangkan etika adalah studi tentang moral. Sedangkan menurut Freeman etika terkait dengan moral dan tingkah laku. Lebih lanjut Scott Kretchmar menyatakan bahwa etika juga mengenai tentang rasa belas kasih dan simpati-tentang memastikan kehidupan yang baik berbagi dengan lainnya. Suseno mengatakan bahwa moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolokukur untuk menentukan betul-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.
Selanjutnya dikatakan bahwa ada norma-norma khusus yang hanya berlaku dalam bidang atau situasi khusus. Seperti bola tidak boleh disentuh oleh pemain sepakbola, bila permainan berhenti maka aturan itu sudah tidak berlaku. Norma diatas merupakan norma khusus, sedangkan norma umum ada tiga macam seperti : norma-norma sopan santun, norma-norma hukum dan norma-norma moral. Norma sopan santun menyangkut sikap lahiriah manusia.
Norma hukum adalah norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan dilanggar, orang yang melanggar hukum, pasti akan dikenai hukuman sebagai sangsi. Tetapi norma hukum tidak sama dengan norma moral. Bisa terjadi bahwa demi tuntutan suara hati, demi kesadaran moral, orang harus melanggar hukum. Kalaupun dihukum, hal itu tidak berarti bahwa orang itu buruk. Hukum tidak dipakai untuk mengukur baik-buruknya seseorang sebagai manusia, melainkan untuk menjamin tertib umum.
Norma moral adalah tolok ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang, maka dengan norma-norma moral kita betul-betul dinilai. Itulah sebab penilaian moral selalu berbobot. Perkembangan moral adalah proses, dan melalui proses itu seseorang mengadopsi nilai-nilai dan perilaku yang diterima oleh masyarakat (Bandura, 1977). Pada dasarnya seseorang yang konsisten menginternalisasi norma dipandang sebagai seseorang yang bermoral. Para ahli menerapkan apa yang disebut pendekatan “kantong kebajikan” (Kohlberg, 1981), teori ini percaya bahwa seseorang mencontoh perilaku orang lain sebagai model atau tauladan yang ia nilai memiliki sifat-sifat tertentu atau yang menunjukkan perilaku berlandasan nilai yang diharapkan.
Untuk memahami moral Kohlberg (1981) dan Rest (1986) menyatakan bahwa pemahaman moral berpengaruh langsung terhadap motivasi dan perilaku namun memiliki hubungan yang tak begitu kuat. Hubungan erat pada empati, emosi, rasa bersalah, latar belakang sosial, pengalaman. Suseno melihat terdapat tiga prinsip dasar dalam moral, yaitu prinsip sikap baik, prinsip keadilan dan prinsip hormat terhadap diri sendiri.Prinsip sikap baik dimana prinsip ini mendahului dan mendasari semua prinsip moral lain, dimana sikap yang dituntut dari kita adalah jangan merugikan siapa saja. Prinsip bahwa kita harus mengusahakan akibat-akibat baik sebanyak mungkin dan mengusahakan untuk sedapat mungkin mencegah akibat buruk dari tindakan. Prinsip keadilan dimana keadilan tidak sama dengan sikap baik, demi menyelamatan gol dari serangan lawan, pemain belakang menahan dengan tangan, hal itu tetap tidak boleh dengan alasan apapun, berbuat baik dengan melanggar hak pihak lain tidak dibenarkan. Prinsip hormat terhadap diri sendiri mengatakan bahwa manusia wajib untuk selalu memperlakukan diri sebagai suatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Prinsip ini berdasarkan faham bahwa manusia adalah person, pusat berpengertian dan berkehendak, yang memiliki kebebasan dan suara hati, mahluk berakal budi.

c) Bagaimana kita mengajarkan etika dan nilai moral
Dalam mengajarkan etika dan nilai moral sebaiknya lebih bersifat contoh, pepatah mengatakan bahwa tindakan lebih baik baik dari kata-kata. Lutan mengatakan Nilai Moral itu beraneka macam, termasuk loyalitas, kebajikan, kehormatan, kebenaran, respek, keramahan, integritas, keadilan, kooperasi,tugas dll. Lebih lanjut dikatakan ada 4 nilai moral yang menjadi inti dan bersifat universal yaitu :

1) Keadilan.
Keadilan ada dalam beberapa bentuk ; distributif, prosedural, retributif dan kompensasi. Keadilan distributif berarti keadilan yang mencakup pembagian keuntungan dan beban secara relatif. Keadilan prosedural mencakuppersepsi terhadap prosedur yang dinilai sportif atau fair dalam menentukan hasil. Keadilan retributif mencakup persepsi yang fair sehubungan dengan hukuman yang dijatuhkan bagi pelanggar hukum. Keadilan kompensasi mencakup persepsi mengenai kebaikan atau keuntungan yang diperoleh penderita atau yang diderita pada waktu sebelumnya. Seorang wasit bila ragu memutuskan apakah pemain penyerang berada pada posisi off-side dalam sepakbola, ia minta pendapat penjaga garis. Semua pemain penyerang akan protes, meskipun akhirnya harus dapat menerima, jika misalnya wasit dalam kasus lainnya memberikan hukuman tendangan penalti akibat pemain bertahana menyentuh bola dengan tanganya, atau sengaja menangkap bola di daerah penalti. Tentu saja ia berusaha berbuat seadil mungkin. Bila ia kurang yakin, mungkin cukup dengan memberikan hukuman berupa tendangan bebas.

2) Kejujuran.
Kejujuran dan kebajikan selalu terkait dengan kesan terpercaya, dan terpercaya selalu terkait dengan kesan tidak berdusta, menipu atau memperdaya. Hal ini terwujud dalam tindak dan perkataan. Semua pihak percaya bahwa wasit dapat mempertaruhkan integritasnya dengan membuat keputusan yang fair. Ia terpercaya karena keputusannya mencerminkan kejujuran.
3) Tanggung Jawab.
Tanggung jawab merupakan nilai moral penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanggung jawab ini adalah pertanggungan perbuatan sendiri. Seorang atlet harus bertanggung jawab kepada timnya, pelatihnya dan kepada permainan itu sendiri. Tanggung jawab ini merupakan nilai moral terpenting dalam olahraga.

4) Kedamaian
Kedamaian mengandung pengertian : a)tidak akan menganiaya, b)mencegah penganiayaan, c) menghilangkan penganiaan, dan d)berbuat baik. Bayangkan bila ada pelatih yang mengintrusksikan untuk mencederai lawan agar tidak mampu bermain.
Freeman dalam buku Physical Education and Sport in A cahanging Society menyarankan 5 area dasar dari etika yang harus diberikan yaitu : 1) Keadilan dan persamaan, 2) Respek terhadap diri sendiri. 3) Respek dan pertimbangan terhadap yang lain, 4) Menghormati peraturan dan kewenangan , 5) Rasa terhadap perspektif atau nilai relatif. (Freeman,2001;210)
1. Keadilan dan Persamaan
Anak didik atau atlet adalah mengharapkan perlakuan yang adil dan sama. Anak didik ingin sebuah kesempatan untuk belajar yang sama. Seringkali anak didik yang di bawah rata-rata dalam olahraga diabaikan.
2. Respek terhadap diri sendiri
Pelajar atau atlet membutuhkan respek terhadap diri sendiri dan imej positif tentang dirinya untuk menjadi sukses. Pelatih dan pengajar yang melatih semua anak didiknya dengan sama mengambil langkah tepat dalam setiap arahnya agar anak didiknya merasa dirinya penting dan layak dimata pengajarnya.
3. Rasa hormat dan kepedulian terhadap orang lain.
Pelajar dan atlet membutuhkan rasa hormat kepada orang lain, apakah teman sekelasnya, lawan bertanding, guru ataupun pelatihnya. Mereka perlu belajar tentang bagaimana pentingnya memperlakukan orang lain dengan hormat.




BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah penulis uaraikan maka dapat ditarik satu kesimpulah bahwa Salah satu masalah penting dalam antropologi olahraga adalah bersosial dan berinteraksi, pendidikan jasmani dan olahraga sebagai salah satu sarana pendidikan masyarakat / Olahragawan /manusia/ individu untuk memberikan suatu pemikiran tentang bagaimana cara hidup dengan layak dan sehat jasmani dan rohani dalam dalam kehidupan bermasyarakat. Mengajarkan Sosiologi sebaiknya lebih bersifat berinteraksi dengan lingkungan.Tindakan lebih baik dari kata-kata. Nilai Sosial itu beraneka ragam, termasuk loyalitas, kebajikan, kehormatan, kebenaran, respek, keramahan, integritas, keadilan, kooperatif dan mudah berinteraksi dengan masyarakat.
Dalam memahami arti pendidikan jasmani dan, kita harus juga mempertimbangkan Perspektif antropologi Olahraga, Pendidikan jasmani dan olahraga (sport) dengan sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.
Sejak manusia lahir di dunia, ia telah berjuang untuk mempertahankan kehidupan yang wajar, untuk dapat hidup dengan tenaga dan pikirannya. Untuk itu manusia memperkembangkan kekuatan fisik dan jasmani supaya badannya cukup kuat dan tenaganya cukup terlatih, menjadi tangkas untuk melakukan perjuangan hidupnya. Disamping itu menjadi kebutuhan hidup tiap manusia dan menjadi sifat manusia untuk mencoba kekuatan dan ketangkasannya dengan manusia-manusia lain.
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan aktivitas jasmani itu sendiri, tetapi untuk mengembangkan potensi siswa melalu aktivitas jasmani.
Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.
Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.
Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
B. Saran
Berbicara tentang antropologi kaitanya dengan olahraga , maka ada bebarapa saran yang dapat di garis bawahi oleh penulis dalam makalah ini adalah:
1. Kami sebagai penyusun makalah ini, sangat mengharap atas segala saran – saran dan kritikan bagi para pembaca yang kami hormati guna untuk membangun pada masa yang akan datang untuk menjadi yang lebih baik dalam membenarkan alur-alur yang semestinya kurang memuaskan bagi tugas yang kami laksanakan.
2. Hubungannya dengan perkembangan antropologi olahraga diharapkan masyarakat atau anak didik (Atlet) dalam mengembangkan hubungan antara masyarakat olahraga dan masyarakat dilingkungan olahraga diharapkan dapat mengetahui arti penting berinteraksi antar masyarakat olahraga dan masyarakat lingkungan
3. Pendidikan Jasmani, olahraga dan sosiologi tidak bisa dipisahkan karena ketiganya saling mempengaruhi didalam meningkatkan dinamika sosial-budaya masyarakat.
4. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan aktivitas jasmani itu sendiri, tetapi untuk mengembangkan potensi siswa melalu aktivitas jasmani.
5. Didalam memahami Pendidikan jasmani, olahraga dan sosiologi olahraga harus tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilangan pribadinya masing-masing. Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagai tempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Agung Drs , Aspirasi , semester 1-2, penerbit dan percetakan Pustaka Manggala,2007.

BOUMAN, P.J. (1976) Sosiologi, Pengertian dan masalah. Yogyakarta, Penerbit Yayasan Kanisius.

Cooper, K.H. (1994) : Antioxidant Revolution, Thomas Nelson Publishers, Nashville-Atlanta-London Vancouver.

COSER, L. (1964). The Function of Social Conflict. New York, The Free Press.

DURKHEIM, E. (1966). The Division of Labour (Translation). New York, The Free Press.

_____________ (1962). Socialism. London, Colliers Books

Giriwijoyo,Y.S.S. (1992) Ilmu Faal Olahraga, Buku perkuliahan Mahasiswa FPOK-IKIP Bandung.

Giriwijoyo,H.Y.S.S. dan H.Muchtamadji M.Ali (1997) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, IKIP Bandung.

Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2000) : Olahraga Kesehatan, Bahan perkuliahan Mahasiswa FPOK-UPI.

Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2001) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga, kontribusinya terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat.

Giriwijoyo,H.Y.S.S. dan Komariyah,L (2007): Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, 2007.

Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2008) : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah Dasar, Makalah disajikan pada Penataran Guru Pen-Jas, diselenggarakan oleh PERWOSI Jawa Barat, Maret 2008 di gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia.

GOULDNER, Alvin W. (1973). The Coming Crisis of Western Sociology. London, Heineman

Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si./ Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom

H.Gunawan, Ary. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Hartoto. 2008. Defenisi Sosiologi Pendidikan. Online (http://www.fatamorghana. wordpress.com, diakses 20 Maret 2008).

HINDESS, Barry (ed. 1977). Sociological theories of the Economy. London, the Mac Millan Press.
Ikhwanuddin Syarif (ed). (2001) Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia baru, 70 tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed. Jakarta: Grasindo, 2001.

KAZACIGIL, Ali (ed. 1994). Sociology: State of the Art I. International Social Sciences Journal, February 1994:139. Paris, Blackwell Publ.

MARX, K. (1956). Selected Writings in Sociology and Social Philosophy. (Translation by T.B. Bottomore). New York, Mc Graw-Hill Books.

MARTINELLI, alberto (2002). “Markets, Government and Global Governance”. Presidential address, ISA XV Congress, Brisbane 2002

MILLS, C, Wright (1961). The Sociological Imagination. New York, Grove Press, Inc.

MUDIM BE, V.Y. (ed. Dkk, 1996). Open the Social Sciences. Refort of the Guilbenkian Commission of the Gulbenkian Commission on the Restructuring of the Social Science. Stanford, Stanford Univ. Press.

PARSONS, Talcot (1951). The Social System; The Major Exposition of the Author’s Conceptual Scheme. New York, Free Press.

Richard Tinning, et., al, (2001) Becoming a physical education teacher, Australia: Printice hall.

SIMMEL, G. (1955). Conflict and the Web of Group Affixations. New York, The Free Press.

____________ (1950). The sociology of George Simmel. New York, The Free Press of Glencol

SIMONDS, A.P. (1978). Karl Mennheim’s Sociology of Knowledge. Oxford, Clarendom Press

SOROKIN, P.A. (1928). Contemporary Sociological Theories; through the First Quarter of the 20th Century. New York, Harper Torchbooks.

STEINER, Philippe (2001). “The Sociology of Economic Knowledge”. The Return of Economic Sociology in Europe (a. Symposium) dalam European Journal of Social Theory 4 (4). London, Sage Publications

Sutan Zanti dan Syahniar Syahrun, (1993) Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Dirjeb Pend. Tinggi.

WEBER, M. (1964). The Theory of Sociology Imagination. New York, Grove Press, Inc.
Wendy Kohli (ed).,(1995) Critical Conversations in Pholosophy of Education. New York: Routledge.
WERTHEIM, W.F. et.al. (ed.s 1955-1957). Indonesian Sociological Studies; Selected Writings of B. Watson,A.S. (1992): Children in Sports, dalam Textbook of Science and Medicine in Sport Edited by J.Bloomfield, P.A.Fricker and K.D.Fitch; Blackwell Scientific Publications.
William H. Freeman, 6th ed. (2001) Physical Education and sport in a changing society. Boston: Allyn & Bacon.
Schrieke (2 parts). The Haque, W. van Hoeve.